TUNJUKAN : Saksi mata, Karolina ketika menunjukan TKP penusukan antara penagih hutang terhadap penagih hutang pada salah satu warung di Gang Al Furqon, RT 2/1, Kelurahan Sukmajaya, Kecamatan Sukmajaya Kota Depok, Kamis (22/9). GERARD SOEHARLY/RADAR DEPOK
yamaha-nmax

RADARDEPOK.COM – Fadli sepertinya sudah mempersiapkan diri untuk melukai Gulo. Keduanya ini merupakan penagih hutang atau debt collector. Kamis (22/9) puncaknya, Gulo terkapar setelah mendapati hadiah luka 10 tusukan dari Fadli, di Gang Al Furqon, RT 2/1, Kelurahan/Kecamatan Sukmajaya Kota Depok.

Sebelum peristiwa berdarah itu terjadi, keduanya sempat mengalami cekcok pada Kamis (15/9) lalu. Saat itu, pelaku melakukan penagihan kepada pemilik warung di RT2/1 Sukmajaya dengan kasar. Sehingga korban (Gelo) melerai pelaku (Fadli). Pelaku sempat menantang korban berkelahi diluar wilayah tersebut. Mendengar tantangan itu, korban mendatangi lokasi seperti yang dijanjikan namun, pelaku tidak ada dilokasi tersebut.

Saksi mata yang juga penjaga warung di lokasi kejadian, Karolina mengatakan, berdasarkan informasi yang diperoleh dari keluarga. Korban Gulo alias Kris mendapati luka 10 tusukan. Sebabnya, dia dilarikan ke RS Primaya, Kelurahan Sukamaju, Kecamatan Cilodong dan harus menjalani operasi. “Kalau dengar dari saudaranya ada 10 tusukan, bisa jadi tambah atau kurang, lukanya dibagian dada, dan lengan,” ungkapnya kepada Radar Depok, Kamis (22/9).

Penjaga warung lainnya, Emi mengatakan, kejadian bermula ketika Gulo alias Kris tengah menagih hutang kepada pemilik warung. Sambil menunggu, korban meminum segelas kopi hitam di warung tersebut.

Kemudian, pelaku yang bernama Fadli datang untuk menagih hutang juga. Setelah itu, pelaku berpamitan dengan pemilik warung dan korban. Selanjutnya, pelaku dan korban  sempat terlibat sebuah percakapan yang tidak diketahui secara pasti. Tidak lama kemudian, keduanya terlibat baku hantam. Lalu, terlihat darah bercucuran dari korban.  “Intinya pas dia mau pulang terus pamit, terus jalan ke arah korban, saya gak tau ada percakapan apa mereka tapi sempet ngobrol,” terangnya Emi.

Usai diketahui menusuk korban, kata Emi, pelaku hendak melarikan diri. Namun, aksinya itu gagal sebab dihadang oleh sejumlah warga termaksud anak perempuannya yang sedang berada dilokasi saat kejadian. “Abis nusuk dia kabur, nah ini yang korban jatuh disini, saya langsung panik juga tau-tau udah berdarah. Terus anak saya tarik belakang motor, akhirnya terbalik tuh motor tapi sempet yang nusuk itu mau kabur,” tuturnya.

Setelah terjatuh dari motor, beber dia, pelaku masih melakukan perlawanan terhadap seorang tukang galon yang kebetulan melintas dilokasi kejadian. Akibatnya, niat kabur pelaku berhasil dihadang warga sekitar dan pelaku penusukan itu dihadiahi penghakiman massa. “Ada tukang galon terus sempet berantem sama tukang galon, akhirnya kena sama warga. Lah anak saya juga sempat ngejambak si pelaku cuman gak kena,” ucap Emi.

Selanjutnya, ungkap Emi, korban dilarikan ke RS Primaya, Kelurahan Sukamaju, Kecamatan Cilodong. Sementara, pelaku penusukan dibawa ke Polsek Sukmajaya usai dihabisi massa. Dia menduga, pelaku tega menusuk korban karena adanya dendam pribadi. Hal itu dibuktikan dari pisau yang memang sudah dibawa oleh pelaku sebelum melancarkan aksinya. “Pisaunya udah bawa sendiri soalnya, berantakan nih warung tadi,” ujar Emi.

Dibalik penusukan tersebut, Emi menguraikan, keduanya sempat mengalami cekcok pada Kamis (15/9) lalu. Saat itu, pelaku melakukan penagihan kepada pemilik warung dengan kasar sehingga, korban melerai pelaku. “Sebenernya kaya dendam pribadi, tapi enggak tau ya. Soalnya ada kejadian gebrak warung Kamis yang lalu, jadi dia datang nagihnya emang setiap hari Kamis, saya pikir dia damai nih,” terangnya.

Bahkan, jelas dia, pelaku sempat menantang korban berkelahi diluar wilayah tersebut. Mendengar tantangan itu, korban mendatangi lokasi seperti yang dijanjikan namun, pelaku tidak ada dilokasi tersebut. “Sempet ditantangin sama yang nusuk, bang kalau berani diluar bang, oh oke dikejar ke pabrik BBI itu gak ada kata korban,” tutur Emi menirukan percakapan pelaku dan korban. (ger/rd)

Jurnalis : Gerard Soeharly

Editor : Fahmi Akbar