KOMPAK : Usai lomba paduan suara yang diselenggarakan aparatur Kelurahan Rangkapanjaya Baru di aula kelurahan setempat, Minggu (25/09). ALDY RAMA/RADAR DEPOK
yamaha-nmax

RADARDEPOK.COM – Demi memperkenalkan adat dan budaya serta menimbulkan jiwa nasionalis kepada generasi muda, aparatur Kelurahan Rangkapanjaya Baru menggelar lomba paduan suara diiringi dengan tari-tarian dengan pakaian adat yang berlangsung di aula kelurahan setempat.

“Sebelum lomba paduan suara bergelar, surat undangan kami sebar melalui masing-masing RW se-Kelurahan Rangkapanjaya Baru, agar mereka dapat mengirimkan peserta dalam lomba yang bergelar,” ucap Lurah Rangkapanjaya Baru, Tajuddin kepada Radar Depok, Rabu (28/9).

Tajuddin mengungkapkan, perhelatan lomba yang bergelar dibatasi usia maksimal 18 tahun, dengan beberapa lagu yang sudah ditentukan.

“Untuk lagu wajib adalah Indonesia Raya, dan lagu pilihan kami kasih dua pilihan, yakni mars Kota Depok dan Tanah Air Ku,” jelas Tajuddin.

Baca Juga  18 RTLH di Kelurahan Sukmajaya Segera Diguyur Bantuan Rp 23 Juta

Peserta yang mengikuti lomba, ungkap Tajuddin, terdiri dari 15 regu yang mewakili 15 RW yang ada di Kelurahan Rangkapanjaya Baru dan setiap regunya terdiri dari 11 orang.

“Tujuan menyelenggarakan lomba paduan suara untuk menggali potensi remaja yang ada di Rangkapanjaya Baru, serta mengantisipasi para remaja agar tidak terjerumus ke pergaulan bebas, terangnya.

Tajuddin mengatakan, tujuan lain diselenggarakan lomba paduan suara ini untuk menimbulkan jiwa nasionalis serta rasa memiliki sebagai warga negara Indonesia dan Kota Depok, dengan lagu-lagu yang sudah ditentukan.

“Di tengah acara pun terdapat beberapa acara tari-tarian yang diperagakan oleh empat anak yang dibagi menjadi dua grup yang memperkenalkan busana betawi, namun tarian ini bersifat hibburan saja tidak untuk diperlombakan,” ucapnya.

Baca Juga  Minin Pimpin Lagi Kwarran Beji untuk 3 Tahun Kedepan

Jenis pakaian yang dikenakan, lanjut Tajuddin, perempuan menggunakan kebaya chic, dan bapak-bapak yang hadir menggunakan pakaian pangsi. Jika tidak memilikinya, cukup menggunakan koko dan selendang kain dan peci.

“Hal ini dilakukan untuk memperkenalkan sejumlah adat kepada generasi muda agar memiliki jiwa nasionalis terhadap bangsa dan daerah sendiri,” pungkasnya. (ama)

Jurnalis : Aldy Rama

Editor : Ricky Juliansyah