FOTO BERSAMA : Anggota PDUI berfoto bersama usai mengikuti kegiatan kongres.
yamaha-nmax

RADARDEPOK.COM – Alumni mahasiswa Universitas Indonesia (UI) membentuk sebuah perkumpulan bernama Paguyuban Daksinapati Universitas Indonesia (PDUI).

PDUI merupakan paguyuban yang terdiri dari hampir 2.000 anggota yang merupakan penghuni Asrama Daksinapati UI pada 1953–1990. Asrama mahasiswa ini didirikan di kompleks Kampus UI, Rawamangun, yang diresmikan Soekarno pada 1953.

“Kita bersilaturahmi sambil mengingat masa lalu, juga memikirkan masa depan, bukan hanya pribadi kita, tetapi juga kampus tercinta kita. Di usia yang sudah lanjut ini, kita juga ingin meninggalkan sesuatu. Daksinapati Asrama sudah masa lalu, namun kita menginginkan adanya sesuatu monumen atau peninggalan yang dapat bermanfaat bagi masyarakat juga bangsa ini,” kata Ketua Daksinapati, Antony Zeidra Abidin, pada Kongres II Paguyuban Daksinapati Universitas Indonesia (PDUI), di Makara Hotel, Kampus UI Depok.

Ada dua bangunan utama bertingkat tiga di asrama ini yang dapat menampung 360 mahasiswa. Para penghuni menjuluki lantai satu dengan sebutan “Magma Bumi”, lantai dua “Antarplanet”, dan lantai tiga “Cakrawala”. Di asrama inilah para mahasiswa dari berbagai daerah tinggal, berkumpul, dan melahirkan berbagai ide hingga lahirlah toleransi keberagaman yang menggambarkan miniatur Indonesia.

Kongres II PDUI ini dihadiri sekitar 200 orang yang seluruhnya merupakan alumni Asrama Daksinapati. Selain sebagai ajang reuni untuk mengenang masa lalu, kongres tersebut juga menjadi tempat untuk bertukar pikir tentang kontribusi yang dapat diberikan kepada UI, masyarakat, dan bangsa Indonesia. Menurut Antony, saat ini ada dua monument yang dibangun PDUI sebagai wujud pengabdian pada negeri, yaitu Politeknik Daksinapati dan PT Daksinapati Bhakti Nusantara (DBN). Keduanya berada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Global Daksinapati yang didirikan pada 8 November 2019, usai Kongres I PDUI diadakan pada 27 Juli 2019.

Pembentukan Politeknik Daksinapati berkelas internasional diharapkan mampu memenuhi kebutuhan dan sejalan dengan perkembangan teknologi. Hal ini agar lulusan yang dihasilkan tidak hanya siap kerja, tetapi juga bermental tangguh.

 

Dalam jangka waktu lima tahun, prioritas pengembangan Politeknik Daksinapati diarahkan pada ilmu pengetahuan dan teknologi terapan yang memadukan kurikulum berbasis kompetensi dan merujuk pada kebutuhan industri dan pasar nasional/internasional. Politeknik Daksinapati memperkuat pendidikan applied sciences and technology berkolaborasi dengan industri untuk mengembangkan Center of Excellence in Technology.

 

Sementara itu, perusahaan dengan singkatan DBN Group berfokus pada bidang usaha berbasis “tanah” dan “air”, yaitu properti yang meliputi perumahan dan bisnis pendukung, cabangnya berupa konstruksi, konsultan, pariwisata dan pertanian, serta perkebunan dan kelautan. Dalam rapat pertama Direksi DBN, dirumuskan sejumlah program strategis untuk menjadikan DBN Group sebagai perusahaan profesional yang sehat, maju, dan besar. Dengan visi tersebut, DBN Group akan go public dalam waktu dekat.

 

“Dua kegiatan tersebut menjadi momentum dalam melanjutkan spirit persaudaraan dan kebangsaan yang melembaga melalui wadah Asrama Daksinapati. Asrama Daksinapati akan menjadi Cagar Budaya Nasional. PT DBN Group dan Politeknik Daksinapati akan menjadi monumen, yang insyaAllah akan dikenang sepanjang masa,” kata Antony.

 

Dalam kongres ini, diadakan pula launching buku berjudul “Asramaku Indonesiaku” yang merupakan kumpulan tulisan dari para anggota PDUI tentang pengalaman, kisah, dan inspirasi selama tinggal di Asrama Daksinapati. Buku ini memuat 6 bagian dengan lebih dari 30 tulisan dari para tokoh yang berisi gagasan dari semangat kebangsaan yang tumbuh di Asrama Daksinapati.

 

Menurut  Des Alwi,  proses penulisan dan penerbitan buku ini memakan waktu hampir tiga tahun. Saat ini, ada 200 buku terjual dan hasilnya memberikan sumbangan dalam pembiayaan kegiatan PDUI, termasuk pelaksanaan Kongres II.

 

Pada bagian pengantar buku, Rektor UI, Prof. Ari Kuncoro, menyambut baik penerbitan buku ini. Menurut Prof. Ari, Asrama Daksinapati telah melahirkan tokoh yang menduduki berbagai posisi penting di Tanah Air, seperti menteri, gubernur, hingga kepala desa. Pembangunan dan kehidupan di Asrama Daksinapati sejalan dengan misi UI yang tidak sekadar mencetak lulusan yang memiliki Indeks Prestasi Tinggi, tetapi juga memupuk modal sosial mahasiswa.

 

“Ada nilai-nilai yang perlu diwariskan dari waktu ke waktu. Mahasiswa perlu kemampuan berkomunikasi di tengah masyarakat. Asrama Daksinapati sudah mengawali dengan kebiasaan mahasiswa yang akan masuk Asrama harus mampu melakukan negosiasi dan persuasi terhadap penghuni kamar yang akan mereka tempati. Sekat-sekat antarfakultas jelas sudah tidak ada lagi,” kata Prof. Ari.

 

Sejalan dengan hal tersebut, Ketua Ikatan Alumni (ILUNI) UI, Didit Ratam, juga mengatakan dukungannya terhadap kontribusi yang diberikan PDUI. Menurut Didit, ILUNI UI mengayomi dan berupaya membawa manfaat untuk seluruh alumni UI dari berbagai generasi. Paguyuban Daksinapati UI merupakan elemen penting yang patut menjadi contoh dari kegiatan yang dilakukan, baik melalui Politeknik Daksinapati maupun DBN.

 

“ILUNI UI sangat mendukung kegiatan yang dilakukan Paguyuban Daksinapati. Paguyuban ini bisa menjadi perpanjangan tangan untuk menjangkau alumni-alumni senior UI. Seluruh alumni yang hadir di sini merefleksikan timnya untuk berkontribusi bersama-sama bagi UI dan Indonesia,” kata Didit.(*/rd)

Editor : Indra Siregar