pegiat hiv
PRESENTASI : Pegiat HIV/Aids di Kota Depok, Erdyansyah ketika memberikan pemaparan saat masih bergabung dengan KPAN. DOKUMEN PRIBADI
yamaha-nmax

Nama Erdyansyah tentu tidak asing lagi bagi pegiat HIV dan Aids di Kota Depok. Pasalnya, dia sudah belasan tahun merampas kembali hak-hak pengidap HIV dan Aids yang memang seharusnya dimiliki.

Laporan : Gerard Soeharly

RADARDEPOK.COM, Tahun 2009 menjadi kenagan buat Erdyansyah. Banyak peristiwa yang terjadi pada tahun itu yang membuatnya pegiat HIV dan Aids di Kota Depok. Mulanya, dia dan kawan-kawan memberanikan diri membangun suatu wadah yang bernama Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Kuldesak.

Tentunya, saat itu penanggulangan HIV dan Aids di Kota Depok belum seperti saat ini. Kala itu, penyakit tersebut masih dianggap tabu dan. Sehingga, diskriminasi terhadap pengidapnya terus bergulir.

Berangkat darisitu, hati Erdy mulai tergerak. Kemudian, dia dan teman-temannya membulatkan tekad untuk mengatasi situasi tersebut. Dengan tidak kenal kata lelah dia mulai melakukan pergerakan yang masif.

Baca Juga  Pelanggan PDAM Perlu Ditingkatkan

“Kala itu, program penanggulangan HIV di Kota Depok masih belum berjalan sebagaimana mestinya atau bisa dibilang mati suri. Saya bersama teman – teman Sebaya lainnya yang berasal dari Kota Depok memulai pergerakan yang masif,” ungkapnya kepada Radar Depok, Rabu (5/10).

Terlebih, Walikota Depok saat itu yakni Nur Mahmudi Ismail mengeluarkan pernyataan bahwa tidak ada warga asli Depok yang terkena HIV. Saat itu, Nur berpendapat bahwa Depok sebagai kota penyangga Jakarta yang banyak dilalui masyarakat Jawa Barat yang akan bepergian ke Ibu Kota.

Mendengar hal itu, Erdy dan kawan-kawan langsung merespon pernyataan tersebut. Menurut Erdy, pernyataan itu tidak benar adanaya. Apalagi, dia yang lebih memahami betul kondisi sesesungguhnya diakar rumput.

Respon yang diberikan mereka bukanlah saling bantah, Erdy memilih untuk menjadi aktifis instan yang justru akan membuat pemikirian masyarakat umum menjadi lebih maju. Dengan begitu, kata Erdy, akan lebih efektif untuk mengingatkan kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Depok bahwa pernyataan Walikota Depok saat itu salah besar.

Baca Juga  PWI Depok-Net TV Kampanyekan New Normal

“Kami mulai bergerak untuk menunjukkan eksistensi kami, bahwa kami itu ada, dan kami putera daerah asli Depok yang sah dan bertumbuh di Kota Depok ini semenjak kami memghembuskan nafas kami untuk pertama kali,” tegasnya.

Menyusun sejumlah strategi, Erdy dan kawan-kawan mulai bergerak. Mereka mulai melakukan lobi-lobi dari tingkat masyarakat, layanan kesehatan, stakeholder sampai dinas terkait.

Erdy mengungkapkan, dalam strategi itu mereka ingin seluruh lapisan masyarakat di Kota Depok mengetahui adanya pengidap HIV dan Aids yang lahir dan besar di Kota Depok. Selanjutnya, mereka gencar melakukan sosialiasasi dan program penanggulangan HIV dan Aids.

“Kami sosialisasikan tentang keberadaan kami dan program – program apa saja yang bisa dilakukan untuk Penanggulan HIV,” terang Erdy.

Baca Juga  Pelayanan Polresta Depok Dipuji

Melalui wadah masing-masing, kata Erdy, dia dan teman-temannya mulai melakukan penanggulangan HIV mulai dari langkah Preventif atau pencegahan hingga Kuratif atau pengobatan.

“Yang bisa kita coba kita kolaborasikan antara pemerintah dan komunitas,” ucpanya.

Dengan begitub, dia berharap, isu HIV tidak lagi menjadi hal yang tabu di masyarakat yang akhirnya melahirkan stigma dan diskriminasi. Pasalnya, HIV itu bukanlah isu kesehatan yang berkembang di Indonesia saja. Melainkan, pada tingkat dunia.

“Kami juga ingin menyadarkan masyarakat, HIV itu adalah isu tentang kesehatan yang bukan hanya di Indonesia saja tapi menjadi isu global yang juga di alami di negeri-negeri lain,” tandas Erdy. (Bersambung)

Editor : Junior Williandro