Artikel Arfi Destianti
yamaha-nmax

Oleh: Dra. Arfi Destianti*)

RADARDEPOK.COM – Modal sumber daya manusia kini makin disiapkan untuk meningkatkan kecerdasan, memperkuat karakter dan membenamkan nasionalisme di benak para siswa yang pada tahun 2045, akan menjadi pemegang tampuk kepemimpinan nasional dan menjadi penentu arah kebijakan ke depan

Terlebih di zaman literasi dan numerasi yang berkembang pesat saat ini. Salah satu perkembangan yang akan didapat adalah bonus demografi. Indonesia diperkirakan akan memanen bonus itu di tahun 2030-an ketika penduduk usia produktif berjumlah lebih banyak ketimbang penduduk usia non produktif.

Diprediksi, ada sekitar 205 juta manusia usia 15-64 tahun, dan hal itu akan menempatkan Indonesia sebagai negara berpenduduk usia produktif terbesar ke-4 di dunia.

Hal di atas perlu diperhatikan oleh kalangan pendidik, kalangan unit sekolah yang mempersiapkan anak didik melalui pembaruan-pembaruan metode dan konsep, sejalan dengan kurikulum merdeka yang kini makin digenjot.

Baca Juga  DEEP Bicara Pilkada Depok 2020 : Manuver Awal, Psywar, Kerucutkan Peta Politik

Ya, kurikulum merdeka memaknai perubahan di jaman yang penuh desrupsi ini. Para Guru dituntut paham, sekaligus mau berubah bagi Guru yang senior, agar mau mengikuti perubahan dengan mengubah cara mengajar yang lebih eksploratif, menggunakan DFC (Design of Change), dan tidak lagi terkungkung pada penggunaan buku paket semata.

Di Yayasan Semut Beriring misalnya, dengan unit SMP INS (the Indonesia Natural School) nya, sarat dengan kegiatan projek, yang meliputi Bhakti Bumi, Bhakti Bahari, Bhakti Budaya yang mewadahi rasa kebangsaan yang dibekalkan sejak awal.

Siswa diminta memperdalam kecintaannya pada negeri yang kelak akan menjadi Negara terkuat ke 4. Jika tak disiapkan dari para pelajar, kita tak akan meninggalkan legacy, warisan yang kuat bagi anak didik.

Baca Juga  Bulan Puasa yang Luput dari Doa

Karakter, yang sejak pertengahan 2009 digaungkan, jangan sampai senyap. Harus makin ditegakkan meski kini guru lebih sibuk menyimak Kurikulum Merdeka yang banyak mengubah istilah macam CP (Capaian Pembelajaran) sebagai pengganti istilah KD (Kompetensi Dasar), karena alih-alih mengembangkan Pendidikan karakter, Guru masih bingung menentukan projek yang harus ada di setiap semester.

Arfi mengajak setiap sekolah berjalan maju tanpa terbelenggu pada perubahan yang telah menanggalkan istilah RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) menjadi MA (modul Ajar).

Sudah jangan lagi ada pertanyaan: …”format RPP harusnya horizontal apa vertikal…” sudah sangat jauh dari format baku.

Apapun formatnya, yang paling penting Guru paham bagaimana memaknai kecerdasan yang harus berdasar paa Multiple Intelligents (kecerdan majemuk), menjadi teladan bagi pembentukan karakter siswa, dan menguatkan rasa kebangsaan melalui kegiatan-kegiatan penuh makna yang memantik kuriusitas siswa pada perbandingan kekuatan bangsa dibanding negara lain, yang tak kalah hebatnya.

Baca Juga 

Meski pada perhitungan PISA (Programme for International Students Assesment) kita masih rendah dan juga berdasarkan perhitungan IQ (Intelligents Quotient) kita masih di skore 78,49, namun tak boleh berhenti bekerja keras untuk menuntun cara belajar siswa dengan model terkini yang harus makin menarik dibanding gadget yang kerap membelenggu kehidupan siswa.

Banyak referensi yang bisa diunduh untuk membuat Modul Ajar yang alurnya sesuai dengan cara kerja otak anak. Kembangkan saja melalui diskusi ataupun bedah buku, atau mengundang nara sumber yang mumpuni untuk menjaga cara berfikir merdeka dapat mewujud semerdeka anak-anak yang akan menjadi Generasi Emas 2045. Bravo

*)Penulis adalah Director Yayasan Semut Beriring