Tragedi Kanjuruhan
KEHILANGAN ANAK: Defi Antok menunjukkan foto kedua anaknya, Natasha dan Nayla, di RSUD dr Saiful Anwar, di Kota Malang, Rabu (5/10). FOTO: ROBERTUS RISKY/JAWA POS
yamaha-nmax

RADARDEPOK.COM, JAKARTA — Defi Antok kini hanya bisa berandai-andai. Andai dia bisa lebih keras memberi tahu Natasha Debi dan Nayla Debi untuk menonton laga Arema FC versus Persebaya Surabaya di tribun utara Stadion Kanjuruhan, kepiluan itu barangkali tak akan terjadi.

Kedua putrinya mungkin masih bersamanya saat ini. Seperti juga hari-hari sebelum tragedi di stadion di Kabupaten Malang pada Sabtu (1/10) tengah malam tersebut.

“Padahal, saya sudah wanti-wanti jangan ke selatan. Tapi, dia diajak mamanya dan ayah tirinya ke selatan,” katanya sambil berkaca-kaca.

Natasha dan Nayla menjadi korban tertutupnya salah satu gate buntut ditembakkannya gas air mata oleh petugas ke arah tribun, termasuk tribun di sisi utara tempat mereka berada. Total ratusan nyawa terenggut. Puluhan korban di antaranya masih di bawah umur.

Baca Juga  Tingkatkan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia, Pemerintah Optimalkan Program Government to Government

Selain dua anaknya itu, mantan istrinya juga menjadi korban meninggal. Yang selamat hanyalah ayah serta adik tiri Natasha dan Nayla.

“Saya menyesal sekali, kenapa tidak tegas ke mereka biar nonton di tribun utara saja,” ungkapnya.

Menurut Defi, di antara dua putrinya itu, hanya Natasha yang memang Aremania sejati. Tidak hanya menonton di laga kandang, anak 16 tahun itu juga sering ikut mendukung Arema FC saat melawat ke kota lain.

“Tragedi gas air mata ini juga bukan kali pertama sebenarnya bagi Natasha. Dulu, waktu sama saya away ke Bandung, kami juga pernah kena. Tapi, saya selamatkan dia,” jelasnya.

Berkaca dari tragedi di Bandung itulah, Defi selalu menonton pertandingan di tribun utara. Dia merasa tribun selatan selalu menjadi sasaran tembak polisi di semua pertandingan di Indonesia.

Baca Juga  Walikota Depok : Tahun Depan RSUD Timur Beroperasi 

Sebenarnya semua tribun, kecuali VVIP, ditembaki gas air mata oleh petugas. Namun, korban lebih banyak di tribun selatan karena pintu 13 terkunci. Meski dalam temuan terbarunya, Komnas HAM menyebut yang terkunci adalah pintu 3.

Defi menerangkan, selama berada di stadion, sebenarnya dirinya sudah merasa bakal terjadi sesuatu.

“Ternyata benar, ada kejadian. Saya lari ke tribun selatan waktu dikasih tahu anak jadi korban. Mau menyelamatkan, tapi terlambat,” kata pria yang sehari-hari berbisnis penyewaan alat berat tersebut.

Dia pun bersumpah tidak akan pernah lagi datang ke Stadion Kanjuruhan.

“Sudah, saya berhenti. Saya kehilangan anak-anak saya karena sepak bola,” paparnya. (jpc/rd)