Oleh Drs. Supartono, M.Pd. Pengamat Sepak Bola Nasional
yamaha-nmax

RADARDEPOK.COM – Seiring dengan persiapan Kejuaraan Sepak Bola Nasional (KSN) ke-2 Piala Mocammad Yana Aditya, U-10, U-12, U-14, dan U-16, yang akan di gelar pada Selasa-Rabu, 29-30 November 2022 di Lapangan 328 Kostrad Cilodong, Depok, Jawa Barat, saya merasakan bahagia.

Bahagianya, Selain KSN ke-2 didukung sepenuhnya oleh Askot PSSI Depok dan Disporyata Kota Depok, Fakhri Husaini, menyampaikan pesan via WhatsApp (WA) kepada saya pada Senin malam (14/11/2022). Pesannya mengabarkan bahwa beliau mengutip tulisan saya di media, perihal Pak Agum Gumelar dan Almarhum Ronny Pattinasarany, menyoal sejarah Sekolah Sepak Bola yang saya tulis, sebagai bahan materi untuk Focus Grup Discussion (FGD) dalam rangka persiapan penyusunan Kurikulum Sepak Bola Indonesia yang disampaikan di Asprov PSSI Jawa Timur.

Seandainya saat itu, 23 tahun yang lalu, Ketua Umum PSSI tidak dijabat oleh Agum Gumelar, dan Direktur Pembina Usia Muda PSSI tidak dipercayakan kepada Ronny Pattinasarany, belum tentu nama Sekolah Sepak Bola (SSB) digaungkan secara resmi di ranah persepak bolaan Indonesia oleh federasi sepak bola nasional bernama PSSI. Catatan, menyoal sejarah SSB pertama digaungkan secara resmi dan siapa 16 SSB Pelopor yang dipercaya dan diundang oleh PSSI membuka perjalanan SSB di Indonesia, semua ada dalam catatan saya. Sangat lengkap. Dan, saya yakin, PSSI sendiri belum tentu punya catatan sejarah itu.

Dari pesan yang membahagiakan tersebut, saya pun berbagi pesan Fakhri Husaini kepada Indra Syafri, Direktur Teknik (Dirtek) PSSI. Indra pun, berpesan via WA kepada saya, Senin malam (14/11/2022): Sepak Indonesia harus dikerjakan bersama-sama, dan saling memberi kontribusi sesuai kapasitas masing-masing.” Ujar Indra.

Meneladani Agum Gumelar dan Ronny Pattinasarany

Apa yang dilakukan oleh Fakhri Husaini dan didukung Indra Sjafri, terutama dalam rangka persiapan pembuatan Kurikulum Sepak Bola Nasional, ujungnya ada kepastian tentang fungsi dan kedudukan SSB serta ada regulasi baku dari PSSI, kebetulan bergayung sambut, dengan apa yang sedang saya rencanakan, yaitu menggelar Kejuaraan Sepak Bola Nasional (KSN) ke-2 2022, demi terus menggeliatnya sepak bola akar rumput Indonesia.

Saya bersama Sekolah Sepak Bola (SSB) SUKMAJAYA, kembali akan menggelar Turnamen Sepak Bola Nasional (TSN) yang saya sesuaikan menjadi Kejuaraan Sepak Bola Nasional (KSN) ke-2 pada Selasa-Rabu, 29-30 November 2022. Peserta saya seleksi atas dasar PEMBINAAN SEPAK BOLA MURNI, yaitu perwakilan dari Provinsi Wilayah Sumatera, Kalimantan, Banten, Jawa Barat, DKI, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Memperebutkan Piala Pembina SSB Sukmajaya, Bapak Mochammad Yana Aditya.

Lahirnya KSN ke-2 bukan pekerjaan semudah membalik telapak tangan. Cikal bakal KSN ke-2, memiliki sejarah panjang, dan inspirasi utamanya adalah

Baca Juga  Menuju Endemi, Hidup Berdampingan Dengan Covid-19

Pertama, Kid’s Soccer Tournament. Kid’s Soccer Tournament adalah sejarah awal lahirnya SSB di Indonesia yang diinisiasi oleh Direktur Pembina Usia Muda PSSI, Ronny Pattinasarany, dengan dukungan penuh sponsor utama Matahari Department Store tbk, plus dukungan spesial Tabloid GO.  Saat itu sungguh sangat indah melihat kolaborasi antara PSSI dengan Direktur Pembina Usia Muda yang langsung bergerak turun, Matahari Department Store tbk. mendukung dengan gelontoran dana, lalu Tabloid GO menjadi corong publikasi.

Yang menarik, saat itu, di organsasi PSSI, meski SSB belum hadir dalam konsep pembinaan persepakbolaan akar rumput, apalagi adanya pemikiran mengenai wadah pembinaan dan pelatihan bernama SSB, namun, Ronny justru bergeming dengan menghadirkan inovasi turnamen Kids Soccer Tournamen tersebut.

Lebih menarik lagi, ternyata 16 SSB yang mewakil Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, dan Depok. (Saat itu Depok belum menjadi anggota Jabodetabek, hingga akhirnya saya mengusulkan lahirnya akronim Jabodetabek melalui artikel di Harian Warta Kota, Kamis, 11 Mei 2000). Demi penyeragaman, karena peserta turnamen belum semua bernama SSB, dan masih berbentuk klub, ditambah nama SSB belum familiar, maka Ronny menyeragamkan 15 tim menjadi berlabel SSB, kecuali ASIOP Apacinti.  Dan akhirnya, dipilihlah 16 SSB berdasarkan pengamatan langsung Ronny. 16 SSB yang dipilih dan diundang dalam Kids Soccer Tournamen, disebut sebagai  SSB Pelopor di Indonesia.

Berikut adalah SSB Pelopor yang terpilih dalam turnamen yang berlangsung di Stadion GMSB Kuningan, Jakarta, 3-11 Juli 1999 dan mencatatkan sejarah sebagai SSB yang mengikuti turnamen SSB perdana secara resmi yang digelar oleh PSSI, yaitu: AS IOP, Bina Taruna, Mutiara Cempaka, Sukmajaya, Gala Puri, Bekasi Putra, Pelita Jaya, Jayakarta, BIFA, Pamulang, Harapan Utama, Bintaro Jaya, Bareti, Camp 82, Depok Jaya dan Kemang Pratama.

Dari 16 SSB peserta turnamen SSB resmi tersebut, dapat dilihat, hingga kini mana SSB yang bertahan. Namun, yang pasti, itulah 16 SSB cikal bakal yang melahirkan SSB menjamur di Indonesia.

Kids Soccer Tournamen, adalah tonggak kebangkitan sepakbola akar rumput Indonesia, tonggak hadirnya sebutan SSB, tonggak turnamen usia muda pertama di Indonesia, dan tonggak hadirnya sponsor dana dan sponsor media terbesar perdana juga.

Catatan ini saya tulis kembali untuk publik sepakbola nasional, khususnya bagi SSB baru yang belum memahami sejarah SSB di Indonesia.

Kedua, pengalaman saat pertama kali olahraga Futsal datang dan hadir di Indonesia, McDonald’s langsung menjadi sponsor utama gelaran Turnamen futsal pertama di Indonesia yang berlangsung di Istora Senayan Jakarta, pada Maret 2001. Peserta turnamen yang mengatasnamakan event nasional itu hanya diikuti oleh empat sekolah sepakbola yang langsung ditunjuk oleh Direktur Pembina Usia Muda PSSI, saat itu (Almarhum Ronny Patinasarani).

Baca Juga  Mendidik Anak Rata-Rata

Bahkan turnamen disiarkan langsung oleh RCTI. Empat SSB tersebut adalah SSB Sukmajaya (Depok), SSB Asiop (Jakarta), SSB Tunas Patriot (Bekasi), dan satu SSB wakil Tangerang. Mengapa empat SSB tersebut yang dipilih, Direktur PSSI pun langsung menyebut pertimbangannya berdasarkan manajemen, proses berdiri dan bertahan, serta prestasi.

Sebelum turnamen berlangsung, saya berkesempatan menulis artikel pertama tentang kehadiran Futsal di Indonesia dengan judul: Selamat Datang Futsal, dalam tabloid olahraga GO. (2001).

Ketiga, bulan Mei 2010, ProArena juga berinisiatif memberikan penghargaan kepada 10 pendiri dan pembina SSB di Jabodetabek yang dapat mengelola SSB dan bertahan dalam hujan dan panas lebih dari 10 tahun. Saat itu, pendiri dan pemilik SSB Sukmajaya menjadi satu di antara 10 Pendiri dan Pembina SSB yang tahan banting dengan ganjaran penghargaan Youth Soccer Award 2010.

Dari kisah tersebut, saya pun meneladaninya dengan menggelar event Festival Sepak Bola Antar Provinsi (FSAP). Lalu, berkembang menjadi Turnamen Sepak Bola Nasional (TSN), dan kini semakin saya sesuaiakan dengan perkembangan zaman menjadi Kejuaraan Sepak Bola Nasional (KSN) yang pesertanya saya pilih, persis seperti model Ronny Pattinasarny saat memilih peserta untuk Kids Soccer Tournamen dan McDonald’s Futsal Perdana di Indonesia, serta saat Pro Arena memberikan ganjaran penghargaan Youth Soccer Award 2010.

Perjalanan panjang sebelum lahir KSN

Sebelum KSN ke-2 digelar, ada sejarah perjalanan panjang sebelumnya yang melatar belakangi hingga sampai ke titik KSN ke-2, di antaranya:

(1) Pelaksanaan Festival Sepak bola antar Provinsi yang sukses di gelar pada tahun 2018, 2019, dan 2021 adalah kelanjutan dari program 3Wulan SSB Sukmajaya yang telah digulirkan sejak tahun 2012. Salah satu rekornya adalah saat festival 3Wulan pertama yang melibatkan 144 SSB se-Jabodetabek, Sukabumi, dan Lampung. Digelar di Lapangan Tembak Kostrad Cilodong dengan 12 lapangan, selama 3 pekan dari kelompok umur 9, 11, dan 13 tahun pada tahun 2012 dan didukung oleh beberapa media cetak dan elektronik nasional.

(2) Saya, sebagai praktisi dan pengamat sepak bola nasional, sekaligus pengamat dan praktisi pendidikan nasional dan sosial, yang terjun langsung membidani pembinaan dan pelatihan di SSB Sukmajaya, merasakan betul, bahwa sepakbola akar rumput ini wajib disikapi dan dibenahi secara sungguh-sungguh. Selain saya lahirkan SSB ini sejak tanggal 10 Juni 1998, lalu saya sebut berdiri pada 16 Mei 1999, sebab terlebih dahulu mengadakan persiapan dan pelatihan sejak bulan Agustus 1998 (ibarat bayi dalam kandungan, selama 9 bulan dikelola, baru berdiri pada bulan Mei 1999), saya juga mendirikan Asosiasi SSB Depok (ASSBD) pada tahun 2001.

Baca Juga   Ini Hak Jawab yang Disampaikan Padma Indonesia Terkait Sengketa Tanah Kavling DDN

Kemudian, saya menjadi Pembina Usia Muda Persikad Depok tahun 2004. Selebihnya sejak Persikad menjadi PT, saya menjadi Pembina Usia Muda Pengcab/Askot PSSI Depok sejak 2008 hingga 2018. Pada 2017, saya juga menjadi salah satu pelamar untuk Sekjen PSSI.

(3) Tahun 2010 saya mendapat piagam Youth Soccer Award (Penghargaan terhadap pembina usia dini dan muda yang konsisten dari ProArena Sport).

(4) Selama berkiprah, berbagai prestasi serta berbagai media cetak dan televisi telah meliput dan mempublikasikan SSB Sukmajaya. Selain itu, seluruh level kompetisi SSB terbaik sudah dirasakan oleh SSB Sukmajaya dari usia 8, 10, dan 12 tahun di Indonesia Junior Soccer Leauge (IJSL), usia 13, 15, dan 17 tahun di Divisi Utama Liga TopSkor, usia 14 tahun di Liga Kompas Gramedia, dan usia 16 tahun di Liga Pertamina.

Sementara pemain yang sudah mentas dari kelompok usia 16 tahun membela panji Sukmajaya FC yang kini bertengger di Divisi Utama (kasta tertinggi) kompetisi internal Askot PSSI Kota Depok. Prestasi  terbesar SSB Sukmajaya adalah tetap konsisten mengadakan pelatihan dan pembinaan sepakbola yang siswanya tidak pernah surut dan menjuarai Turnamen Internasional Serumpun Cup dan beberapa siswanya telah menjadi pemain nasional.

(5) Selain bekal pendikan formal (S1 dan S2), bekal lisensi kepelatihan Youth serta pengalaman sebagai pemain sepakbola di Persap Purbalingga (kini Persibangga Purbalingga), saya terus bergerak di lapangan dan pemikiran. Dalam pemikiran, saya mendapat gelar sebagai Pengamat Sepakbola Nasional dari Tabloid GO, setelah saya aktif bertahun-tahun menjadi penulis opini sepakbola nasional sejak tahun 1999.

Kini, artikel tentang sepakbola nasional yang saya tulis rutin terpublikasi terutama di Harian TopSkor sebelum tutup, Harian Radar Depok, dan media lain. Sementara artikel tentang pendidikan, sosial, bahasa, dan sastra, terpublikasi di Harian Republika, Koran Jakarta, Majalah Puskur, Warta Kota, Radar Depok dan media lain, serta kini saya aktif mengisi kolom Kompasiana Kompas dan Indonesiana.id Tempo.

Untuk itu, dengan asam garam yang sudah saya lalui di dunia sepak bola, bersama SSB Sukmajaya, serta gelaran 3Wulan SSB Sukmajaya selama ini, maka saya sebagai pengamat sepak bola nasional, yang memerhatikan kelahiran SSB di Indonesia sejak tahun 1999 sebelum menjamur, merasa wajib mengapresiasi Sekolah Sepak bola/Akademi Sepak bola/ Diklat Sepak bola yang tidak mengenal lelah, bertahan dalam panas dan hujan serta persaingan, tetap setia membina siswanya sejak berdiri dengan anggaran mandiri, hingga berprestasi dalam hal manajamen maupun kejuaraan, maka saya pilih dan saya undang dalam KSN ke-2 2022 Piala Mochammad Yana Aditya.(*)

Oleh Drs. Supartono, M.Pd.

Pengamat Sepak Bola Nasional