CEK KESEHATAN: Tim Kesehatan Yonif Raider 300/ BJW tiba di lokasi pengungsian Kampung Pasir Sayang Rt20/Rw06 Desa Cikancana Kecamatan Gekbrong yang sedikit jauh dari jangkauan. Didapati masyarakat yang mengalamai gangguan kesehatan dikarenakan logistik belum menjangkau. RADAR CIANJUR
yamaha-nmax

RADARDEPOK.COM – Wilayah terdampak gempa di Kabupaten Cianjur kini bertambah menjadi 15 kecamatan. Sedangkan korban meninggal kembali bertambah menjadi 271 yang sebelumnya 268 jiwa, Rabu (23/11).  Sedangkan korban luka tercatat ada 2.043 orang serta warga mengungsi ke tempat yang jauh lebih aman tercatat 61.908 orang.

Kemudian kerugian materiil rumah rusak berjumlah 56.320 rumah dengan rincian terdiri dari rusak berat 22.241 rumah, sedang 11.641 dan ringan 2.290 rumah.

Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto mengatakan, data update hari kedua penanganan telah mengidentifikasi mencocokkan data dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengenai data korban meninggal.  “Khususnya pusat krisis kesehatan di semua rumah sakit dan puskesmas yang sudah ada jenazahnya tercatat ada 271 jenazah sudah ada by name by adressnya,” katanya, Rabu, (23/11).

Dari empat warga yang tertimbun, tim gabungan berhasil menyelamatkan satu anak laki-laki di Desa Nagrak, Kecamatan Cianjur Kota. “Ini yang ditemukan empat, tiga meninggal dunia di Cugenang dan satu selamat atas nama Azka,” ujarnya.

Di samping rumah-rumah yang terdampak, Letjen TNI Suharyanto juga mencatat beberapa infrastruktur rusak. “Insfrastruktur juga rusak sekolah ada 31, tempat ibadah 124, fasilitas kesehatan ada tiga dan gedung perkantoran ada 13,” ungkapnya.

Baca Juga  Politisi Ini Minta Ada Rumah Sakit Khusus untuk Pejabat Negara

Selain itu, pihaknya menyebut kecamatan yang terdampak bertambah tiga yang sebelumnya hanya 12. “Jadi bertambah sehingga menjadi 15 kecamatan diantaranya Cianjur, Karangtengah, Warungkondang, Cilaku, Gekbrong, Cugenang, Cibeber, Sukaluyu, Sukaresmi, pacet, Bojongpicung, Cikalongkulon, Mande, Cipanas dan Haurwangi,” tegasnya.

Kepala Desa Nagrak, Hendi Saeful Maladi mengatakan, seorang anak laki-laki tertimbun berhasil selamat melalui serangkaian proses evakuasi. Ia pun mengaku sangat bersyukur ada keajaiban yang dialami warganya itu. “Iya alhamdulillah, walau anak itu sudah tertimbun tiga hari tapi tetap hidup dan sehat walafiat,” katanya.

Berdasarkan keterangan orangtuanya, Hendi menceritakan, sebelum gempa terjadi beberapa hari yang lalu, orangtuanya menyuruh Azka mengaji ke madrasah. Usai gempa, tim gabungan melakukan pencarian di Madrasah tempat mengaji anak-anak, tetapi Azka belum bisa ditemukan. “Setelah dipastikan tidak ada di madrasah, kemudian dari kemarin dilakukan evakuasi di rumahnya, ternyata ada dan selamat,” bebernya.

Dari data Tim Kesehatan Yonif Raider 300/ BJW yang tiba di lokasi dengan kondisi sulit tersebut, 50 orang yang menjalai tes kesehatan rata-rata mengalami sakit kepala dan lambung. Namun, untuk masyarakat lanjut usia (lansia) rata-rata mengalami tensi tinggi dan sakit di sekujur badan.

Baca Juga  Polresta Depok: Audit BPKP Nangka Segera Keluar

“Kurang lebih 50 pengungsi yang menjalani pemeriksaan kesehatan, itu didominasi sakit kepala dan lambung. Untuk yang lansia, mengalami tensi tinggi dan sakit di sekujur badan atau sakit badan. Mungkin dikarenakan asupan makanan kurang, yang disebabkan dorongan suplai logistis dan kesehatan yang belum tiba,” ujar Dokkes Yonif Raider 300/ BJW, Lettu Bayu Indra Utama.

Dari sekian banyak lansia yang mengalami sakit tersebut, terdapat satu lansia yang mengalami sakit stroke. Sehingga Tim Kesehatan Yonif Raider 300/ BJW memberikan penanganan dini.

Selain itu, masyarakat yang merasa sakit, tetap mempertahankan kondisi agar tetap maksimal. Selain itu, agar tetap bertahan dalam kondisi sakit, masyarakat pun mengkonsumsi obat-obatan tradisional. “Masyarakat mengobati sakit yang dialami dengan obat-obatan tradisional karena sebelum kita tiba, itu belum ada obat-obatan yang memadai,” ungkapnya.

Pihaknya pun akan datang kembali jika memang kondisi di pengungsian masih dibutuhkan untuk penanganan kesehatan dengan perlengkapan dan obat-obatan yang memadai.

Para pengungsi korban dampak gempa yang sebelumnya memenuhi halaman parkir RSUD Sayang dan sekitarnya sudah mulai berkurang.

Diketahui beberapa hari yang lalu para korban nampak mendapatkan perawatan seadanya mengingat penuhnya ruangan dan situasi kondisi masih dalam keadaan mencekam.

Baca Juga  Lokasi SIM Keliling Depok pada Selasa, 6 Oktober 2020

Pantauan Radar Cianjur, halaman parkir RSUD Sayang ada sembilan tenda berukuran sedang dan besar yang dipergunakan sebagai pusat layanan informasi, kebutuhan logistik dan pelayanan masyarakat.

Kemudian di depan Instalasi Rawat Inap berdiri dua tenda berukuran besar dan satu kecil dengan fungsi yang sama.

Sedangkan di depan Instalasi Gawat Darurat (IGD) ada tiga tenda yang peruntukan untuk pasien dengan rata-rata bed sebanyak 12 pasien.

Salah satu pasien terdampak gempa, Ayi Mariam (55), warga Kampung Rawacina, Desa Nagrak mengaku, sudah dua malam berada di RSUD Sayang. “Baru hari ini (kemarin, red) dipindahkan. Kemarin-kemarin sempat diparkiran,” katanya, Rabu, (23/11).

Nenek yang telah memiliki cucu cukup banyak ini bercerita, gempa yang melanda kampungnya membuat ia harus tertimpa reruntuhan yang kemudian ditemukan oleh warga lainnya sehingga turut dievakuasi bersama warga terdampak lainnya.

“Saat mau salat ketimpa reruntuhan menderita luka di kepala sebanyak 14 jahitan sekarang tidak bisa menoleh juga,” ujarnya.

Sedangkan anggota keluarga lainnya tak tertampung di RSUD Sayang sehingga dikirim ke salah satu Rumah Sakit di Kota Bandung. “Cucu ada dua, anak dan istrinya dibawa karena tidak ketampung di sini,” tandasnya. (byu/kim/rd)