SAKSI BISU: Salah satu bagian bangunan Ponpes Ibnu Ijudin Al Yasin yang berada di Kampung Cibeleng Hilir Rt4/Rw1 Desa Cikancana Kecamatan Gekbrong hampir rata dengan tanah. Bangunan tersebut menjadi saksi betapa dahsyatnya guncangan gempa yang terjadi pada Senin (22/11) yang lalu. (Foto: Hakim/ Radar Cianjur)
yamaha-nmax

RADARDEPOK.COM – TAK bisa terlupa dalam benaknya, mungkin seumur hidup bagi Ustad Ahmad Kinkin Bulgini (39). Enam dari 30 muridnya di Ponpes Ibnu Ijudin Al Yasin meninggal dunia tertimpa reruntuhan dampak gempa pada Senin (21/11).

Laporan: ABDUL AZIS N HAKIM, Gekbrong

NIAT hati ingin belajar ilmu agama, justru menjadi petaka. Guru ngaji di Ponpes Ibnu Ijudin Al Yasin, Ustad Ahmad masih mengingat jelas peristiwa memilukan itu.

Hari Senin (22/11) seharusnya menjadi awal pekan yang penuh semangat dan ceria untuk murid-murid yang mengaji di Ponpes Ibnu Ijudin Al Yasin.

Akan tetapi, hal tersebut berbanding terbalik. Hari tersebut menjadi luka yang mendalam semua yang berada di Kampung Cibeleng Hilir RT4/RW1 Desa Cikancana, Kecamatan Gekbrong.

Baca Juga  Menko Airlangga: Teruslah Berinovasi, Optimis, dan Kita akan Maju untuk Menjaga Momentum Pemulihan Ekonomi 2022

Padahal, pukul 13.00 WIB atau setengah jam sebelum gempa bumi berkekuatan 5,6 magnitudo mengguncang Kota Tatar Santri, Cianjur, Ahmad Kinkin Bulgini akan memulai mengajar mengaji di ponpes yang tidak jauh dari rumahnya.

Tak ada firasat dan rasa yang menggangu perasaannya. Dirinya melangkah kaki setapak demi setapak ke lokasi pengajian yang didominasi anak usia delapan tahun tersebut.

Sekitar pukul 13.30 WIB, baru akan dimulai prosesi pembelajaran agama. Goncangan hebat membuat histeris semua murid yang berada di pengajian. Sontak, semua berhamburan mencari tempat aman untuk berlindung.

Naas, enam murid dari 30 murid yang akan melakukan pembelajaran agama harus meregang nyawa tertimpa reruntuhan.

Kinkin sedikit menceritakan dengan raut kesedihan yang mendalam dan suara yang terbata-bata saat menjelaskan kronologis yang membuatnya pilu.

Baca Juga  Waspada Anthrax Serang Hewan Kurban

Pada saat kejadian, dirinya langsung berteriak kepada semua murid untuk keluar bangunan. Saat akan keluar dari lingkungan pengajian, dirinya terpental lantaran guncangan gempa bumi yang besar tersebut.

Sebelum hilang kesadaran, dirinya sempat melihat anaknya yang juga mengikuti pengajian berhasil keluar dari balik reruntuhan.

Dengan sisa tenaga yang ada, dirinya pun merangkul anaknya. Setelahnya, matanya terpejam tak sadarkan diri.

Saat dievakuasi masyarakat ke RSUD Sayang, dirinya sempat berpikir kehilangan seluruh murid yang diajarnya. Bahkan, dirinya belum sepenuhnya mengetahui kondisi istrinya yakni Yuyun Fatimah (36).

Setelah dinyatakan baik-baik saja, dirinya pun bisa kembali pulang dan mendapati istrinya baik-baik saja. Lantaran bangunan tempat mengajar istrinya tertahan tembok bangunan rumah yang berada di samping kanan ponpes tersebut.

Baca Juga  Ruas Tol Serpong-Cinere Mulai Diberlakukan Tarif, Berikut Besarannya

“13.30 WIB memang waktu mulai pengajian dan selesai salat maghrib hingga pukul 21.00 WIB. Biasanya ada kurang lebih 40 murid, tapi karena banyak yang baru divaksin, jadi izin sakit,” ujarnya dengan suara terbata-bata.

Kejadian memilukan tersebut membuatnya begitu kehilangan empat murid yang tengah menuntut ilmu agama. Trauma mendalam pun masih terasa. Terlebih ketika terjadi gempa susulan yang kerap kali menghantui. Dirinya hanya bisa berdoa dengan penuh keikhlasan dan rasa pasrah kepada Yang Maha Kuasa agar keluarga serta masyarakat setempat diberikan kekuatan. (*)