RADARDEPOK.COM — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan jajaran aparatur Kelurahan Duren Seribu, Kecamatan Bojongsari, Kota Depok.
Kepedulian nyata terhadap kelestarian lingkungan berhasil membuahkan hasil manis, setelah mereka kembali menerima penghargaan bergengsi sebagai pengumpul limbah minyak jelantah (mijel) terbanyak se-Kota Depok.
Luar biasanya, penghargaan yang dianugerahkan pada Selasa (7/4) ini menandai hattrick atau pencapaian ketiga secara berturut-turut hanya dalam kurun waktu 10 bulan terakhir.
Konsistensi dan komitmen dalam mengedukasi warganya untuk tidak membuang minyak bekas pakai sembarangan memang patut diacungi jempol. Rentetan prestasi gemilang ini dimulai pada 6 Juli 2025.
Saat itu, Kelurahan Duren Seribu berhasil menggebrak dengan mencatatkan namanya dalam Rekor MURI atas dedikasi dan volume pengumpulan limbah mijel yang fantastis, mancapai 4.700 liter.
Tak puas hanya sampai di rekor MURI, semangat aparatur kelurahan bersama para kader dan warga terus menyala. Di penghujung tahun 2025, Duren Seribu kembali sukses menyabet penghargaan serupa.
Kini, penghargaan ketiga yang baru saja diterima pada Selasa, 7 April 2026, menjadi bukti tak terbantahkan bahwa program ini sudah menjadi menjadi budaya masyarakat.
Ketua TP PKK Kelurahan Duren Seribu, Selvia Rasman mengatakan, suksesnya program tersebut tak terlepas dari kolaborasi yang melibatkan berbagai pihak.
"Ya sebetulnya ini juga menjadi buah manis dari kolaborasi banyak pihak. Ada unsur Posyandu, RT, RW, dan kita juga terus menggencarkan sosialisasi terkait program ini," ungkap Selvia.
Pengumpulan minyak jelantah dilakukan dengan skema jemput bola, yang mana petugas dari kelurahan akan mengangkut mintak jelantah yang sudah dikumpullkan warga.
Nantinya, dari tiga liter minyak jelantah ditukar dengan satu liter minyak goreng bersih.
"Jadi pengumpulan minjelnya ini dengan melakukan jemput bola, karena kalau kita nunggu bola kurang efektif, makanya disini ada kader mijel yang nunggu jemput bola ke rumah warga, ngumpulin mijel," kata Selvia.
"Karena kan di tingkat RT atau tingkat RW itu Bu RW dan Bu RT melalui kader Posyandu itu udah ngumpulin di tingkat warga, jadi kita tinggal jemput di rumah RW, kadang-kadang di rumah kader Posyandu, atau di rumah orang yang kolektif gitu. Jadi kita lebih efektif jemput, dibanding kita nunggu bola," jelasnya.