Kamis, 9 Februari 2023

Kesenanganmu Jangan Menyebabkan Meninggalkan Tuhanmu

- Jumat, 27 September 2019 | 06:59 WIB
  Oleh : K.H.A.Mahfudz Anwar Ketua Komisi Dakwah MUI Kota Depok   Dalam hidup ini selalu ada suka dan ada duka. Ketika datang suka, biasanya orang melupakan Tuhannya. Mereka eforia dan bersukaria berlebihan. Melampiaskan kesenangannya berlebihan sampai lupa bahwa kesenangan yang diterima dari Tuhan itu sifatnya hanya sementara. Ada durasi waktunya, yang suatu saat akan hilang dan pergi darinya. Kesenangan dunia memang biasanya membius orang, sehingga menghilangkan kesadaran yang hakiki. Seperti halnya orang yang sedang sakit lalu dibius total untuk dioperasi atau dibedah. Sehingga tidak merasakan sakitnya. Meskipun sebenarnya ia sedang sakit. Demikian juga orang hidup ini selalu dikasihi Tuhan. Dengan sifat Rahman dan Rahimnya Tuhan selalu melimpahkannya kepada setiap hamba yang dipilihnya. Untuk itu jadilah kekasih–Nya agar menjadi manusia yang dipilih. Tentu saja cintailah terlebih dulu Tuhanmu, maka cintamu pasti terbalas. Tidak mungkin akan bertepuk sebelah tangan. Karena Tuhan Maha Mengetahui isi hati setiap hamba-Nya. Hati yang cinta maupun hati yang benci, akan dilihatnya. Bahkan bukan sekedar dilihat, tapi akan dibalas lebih. Tidak seperti cintanya manusia kadang berkurang kadang berlebih. Cinta kepada Tuhan itu akan melahirkan sikap “Tafwidl”. Yaitu sikap ridla dengan aturan jiwa dari Tuhan. Segala aturan yang dibuat oleh Tuhan dia ikuti dan dilaksanakan semaksimal mungkin. Hatinya selalu tenang tiada rasa was-was, apalagi ragu akan nasib dirinya. Karena ia sadar bahwa semua yang ada ini atas kehendak Yang Maha Kuasa. Manusia tinggal menjalankan saja. Di bawah pengawasan Tuhanlah, manusia ini bekerja dan berbuat. Apa saja yang ia lakukan pasti tercatat seperti meteran listrik di rumah kita. Kapan listrik kita mati dan kapan listrik kita hidup. Selalu terpantau dan akan datang tagihan sesuai putaran meteran yang menandakan pemakaian listrik di rumah kita itu. Begitu juga amal kita sehari-hari selalu terpantau, yang suatu saat ada tagihan datang. Sekalipun kita tak pernah menhitung amal kita, otomatis amal kita dicatat dan tak ada satu meter-pun yang terlewat. Sehingga keyakinan demikian ini melahirkan sikap “taslim”, yaitu merasa cukup dengan Ilmunya Tuhan. Dia serahkan dirinya kepada pantauan Tuhan. Banyak hal yang tidak terjangkau oleh akal kita, tapi nyata dalam kehidupan ini. Orang banyak menyebutnya irrasional. Dan itu tidak mungkin. Tapi jika kita taslim , maka suatu yang irrasional pun kita percaya itu bisa saja terjadi pada kita. Karena yang membuat adalah Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Termasuk kuasa mentakdirkan diri kita. Takdir baik ataupun takdir buruk (Qadla’ dan Qadar). Kalau sudah demikian , maka akan muncul sikap “Tawakkal/berserah diri” yaitu merasa tenteram karena janji Tuhan. Dia percaya bahwa semua yang dijanjikan oleh-Nya pasti terwujud. Tidak seperti janji Pejabat ataupun caleg di masa kampanye. Banyak janji yang irrasional dan tidak mungkin terlaksana. Tapi janji Tuhan walau tak terjangkau oleh akal manusia, tapi tetap akan terlaksana. Cepat atau lambat, pada waktunya akan datang. Karena semua itu ada waktunya. Waktu yang dijanjikan akan tiba tepat pada waktunya, tidak maju dan tidak mundur. Tidak ada jam karet bagi Tuhan. Penghalang apapun yang merintanginya akan hilang di tangan kekuasaan-Nya. Oleh karena itu jika ada hambatan datang, jangan ditangani sendiri. Libatkanlah Tuhan dalam menyelesaikan masalah, insyaAllah akan selesai. Karena campur Tangan Penguasa jagat Raya ini. Dalam bahasa agamanya, Jangan lupa berdoa kepada Tuhanmu. Karena doamu akan selalu didengar oleh-nya. Dan pendengaran Tuhan lebih peka daripada pendengaran Pejabat ataupun anggota Dewan. Dekatkan usahamu ke-hadapan Tuhan agar dilihat oleh-Nya. Carilah perhatian Tuhan. Itu lebih baik daripada cari perhatian atasan atau pak Bos di kantormu. Semoga ini menjadi inspirasi harian yang mampu mengarahkan mata batin kita kepada Tuhan Allah swt. Wallahu alam. (*)

Editor: Administrator

Tags

Terkini

Tahun Politik 2023: Menjaga Nalar Politik

Sabtu, 31 Desember 2022 | 05:47 WIB

Pembelajaran Keragaman Budaya Sejak Dini

Minggu, 20 November 2022 | 21:24 WIB

Bagaimana Film Membentuk Kehidupan Kita?

Jumat, 18 November 2022 | 20:37 WIB

Pahlawan (Dalam) Perang Melawan Narkotika

Kamis, 10 November 2022 | 00:09 WIB

Hari Pahlawan Dalam “Darurat” Politik

Rabu, 9 November 2022 | 22:31 WIB

Menyiapkan Generasi Emas 2045

Selasa, 18 Oktober 2022 | 18:17 WIB

PKI dan Radikalisme Siapa yang Paling Berbahaya?

Jumat, 30 September 2022 | 11:30 WIB

Cerminan Hidup Masa Depan

Jumat, 30 September 2022 | 06:47 WIB
X