Rabu, 8 Februari 2023

Kepemimpinan Perempuan di Ruang Publik

- Rabu, 8 Juni 2022 | 15:09 WIB
Ilustasi pemimpin perempuan. Dok. Jawapos
Ilustasi pemimpin perempuan. Dok. Jawapos

Oleh Husein Muhammad


RADARDEPOK.COM - Masih banyak orang yang menolak ide kesetaraan gender sambil menyebut ayat al-Qur’an, al-Nisa, [4]:34, sebagai landasan teologisnya. Ayat ini dalam terjemahan Kementerian Agama RI adalah : “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.”


Padahal pembaca ayat ini jika lebih cermat dan kritis akan menemukan bahwa redaksi  mengisyaratkan nuansa-nuansa kontekstualitasnya. Pertama, ayat ini sedang mendiskripsikan sebuah situasi social-budaya Arabia abad 7 yang patriarkis, bahwa laki-laki adalah entitas superior, sementara perempuan adalah entitas inferior.


Jadi ia bukanlah ayat yang mengandung norma universal. Kedua, ayat ini kemudian menyebutkan dua alasan mengapa relasi laki-laki dan perempuan seperti itu yaitu karena laki-laki memiliki keunggulan atas perempuan, dan laki-laki secara fungsional bertanggungjawab atas kebutuhan perempuan (dan keluarganya).


Mengenai alasan yang pertama ayat ini tidak secara eksplisit menyebutkan faktor keunggulan tersebut. Para ahli tafsirlah yang kemudian menyebutkan bahwa keunggulan tersebut, antara lain dan terutama kecerdasan intelektual.


Ketiga, segera harus dikemukakan bahwa dalam waktu yang sama ayat ini mengemukakan bahwa keunggulan laki-laki atas perempuan, tidaklah absolute/mutlak.


Ia menyebutkan dengan jelas “ba’dhahum ‘ala ba’dh” (sebagian atas sebagian). Pernyataan ini sangat realistis dan masuk akal. Fakta-fakta sejarah umat manusia di berbagai benua dan di berbagai komunitas sampai hari ini memperlihatkan betapa relatifnya potensi akal intelektual antara laki-laki dan perempuan.


Siti Aisyah, isteri Nabi, misalnya, pada zamannya diakui sebagai perempuan dengan tingkat kecerdasan yang mengungguli kebanyakan laki-laki. Dan Siti Khadijah adalah perempuan pengusaha professional yang sukses.


Maka factor kecerdasan intelektual dan kemampuan mengatur dan berproduksi dalam ekonomi bukanlah sesuatu yang melekat pada setiap laki-laki. Ia bukan kodrat dan tidak universal, melainkan terkait dengan situasi dan sistem sosial, budaya, politik dan sebagainya.

Halaman:

Editor: Ricky Juliansyah

Tags

Terkini

Tahun Politik 2023: Menjaga Nalar Politik

Sabtu, 31 Desember 2022 | 05:47 WIB

Pembelajaran Keragaman Budaya Sejak Dini

Minggu, 20 November 2022 | 21:24 WIB

Bagaimana Film Membentuk Kehidupan Kita?

Jumat, 18 November 2022 | 20:37 WIB

Pahlawan (Dalam) Perang Melawan Narkotika

Kamis, 10 November 2022 | 00:09 WIB

Hari Pahlawan Dalam “Darurat” Politik

Rabu, 9 November 2022 | 22:31 WIB

Menyiapkan Generasi Emas 2045

Selasa, 18 Oktober 2022 | 18:17 WIB

PKI dan Radikalisme Siapa yang Paling Berbahaya?

Jumat, 30 September 2022 | 11:30 WIB

Cerminan Hidup Masa Depan

Jumat, 30 September 2022 | 06:47 WIB
X