Kamis, 9 Februari 2023

Perih, Gegara Minyak Goreng Pelaku Usaha Depok Rela Untung Dikit

- Rabu, 23 Maret 2022 | 08:00 WIB
PRODUKSI REMPEYEK : Sri sedang menggoreng rempeyek yang menjadi usahanya sebagai pelaku UMKM kuliner di Depok. INDRA SIREGAR / RADAR DEPOK
PRODUKSI REMPEYEK : Sri sedang menggoreng rempeyek yang menjadi usahanya sebagai pelaku UMKM kuliner di Depok. INDRA SIREGAR / RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM – Tingginya harga minyak goreng membuat pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM), tercekik. Selasa (22/3), sejumlah UMKM bingung tuk menyiasatinya agar dagangannya bisa laku terjual. Piliuhannya hanya menaikan harga jual atau mengecilkan porsi atau ukuran dagangannya.

Pelaku UMKM rempeyek di Bojongsari, Sri Handayani mengatakan, kelangkaan dan lonjakkan harga minyak goreng yang terjadi saat ini, sangat berdampak pada usahanya. “Pengaruh banget ya,  sekarang harga minyak mahal banget. Per liter bisa mencapai Rp25 ribu,” katanya kepada Harian Radar Depok, Selasa (22/3).

Menurutnya, karena minyak goreng mahal, dia menyiasati produksinya dengan mengurangi timbangan bahan baku pembuatan rempeyek, agar laku di pasaran. “Saya biasanya bikin 10 kilogram (Kg) rempeyek perhari, sekarang saya gak bikin kiloan. Kikinnya plastikan kemasan kecil biar bisa dibeli orang,” tuturnya.

Dia mengungkapkan, dalam sehari dia menggunakan minyak goreng kemasan paling sedikit enam liter. Itu masih dilakukan sampai hari ini.  “Saya jual perkilo rempeyek Rp60 ribu. Kalau mau bertahan untungnya harus jual Rp100 ribu. Tapi, kan takut gak laku, jadinya saya kurangin produksi aja dan jual yang ketengan perbungkus Rp15 ribu supaya bisa dijual,” tuturnya.

Sementara itu, pelaku UMKM kuliner keripik tempe di Bojongsari Baru, Danang Ruyati mengaku, kebingungan untuk menyiasati usahanya di tengah lonjakkan harga minyak goreng. Sebab, mau tidak mau dia harus menaikkan harga kripik tempe buatannya. “Mau gak mau harus naikin harga. Cuma sejauh ini kurang laku jadinya dagangannya,” ucapnya.

Padahal, dari penjualan satu plasitik kripik tempe yang dijual Rp10 ribu, dia hanya mendapatkan keuntungan Rp2.000. “Mau gak mau harus naik, kalau gak jadi rugi. Tapi saya takut yang beli jadi sedikit,” ucapnya.

Terpisah, Ketua Aosiasi Pengusaha Warteg, Mukroni meminta, pemerintah segera mengambil langkah konkret terkait mahalnya harga minyak goreng. Bila ini dalam jangka waktu lama dapat mematikan usaha kecil dan menengah. “Tentunya dengan mahalnya minyak goreng ini mencekik rakyat kecil ya,” ungkapnya.

Dia mengatakan, seluruh pengusaha warteg di  Depok kompak untuk tidak menaikkan harga lauk pauk dan nasi, walau harga minyak sedang tinggi. Hal ini dikarenakan mereka merasa iba dengan perekonomian masyarakat yang belum stabil di tengah terpaan pandemi Covid-19 ini.

“Kita gak naikin harga, paling hanya mengorbankan keuntungan kita berkurang aja. Yang penting modal untuk dagang lagi masih aman, karena kalau kita naikin kasihan nanti masyarkat kelas bawah gak mampu beli makan,” pungkasnya. (dra/rd)

Jurnalis : Indra Abertnego Siregar

Editor : Fahmi Akbar

Editor: Fahmi Akbar

Tags

Terkini

Banten Gempa, Depok Kena Goyangnya Tapi Tipis-tipis

Selasa, 7 Februari 2023 | 12:58 WIB

Alhamdulillah, 2.080 Honorer Kota Depok Terima SK

Selasa, 7 Februari 2023 | 10:53 WIB

Sehari Dua Nyawa Melayang Secara Tragis di Depok

Selasa, 7 Februari 2023 | 08:20 WIB

Video Syur Mirip Rezky Aditya Masuk Babak Baru

Senin, 6 Februari 2023 | 12:39 WIB

Pak Zulhas di Depok HET MinyaKita Jebol Rp2.000

Senin, 6 Februari 2023 | 07:30 WIB
X