pendidikan

Pilah Sampah, Tata Taman, hingga Olah Limbah, Ini Rangkaian Kokurikuler SMPN 22 Depok

Jumat, 17 April 2026 | 08:45 WIB
Pelaksanaan kegiatan Kokulikuler di SMPN 22 Depok. (ANDIKA EKA/RADAR DEPOK)

RADARDEPOK.COM-Dalam upaya membangun budaya peduli lingkungan terus diperkuat SMPN 22 Depok. Melalui kegiatan kokurikuler yang digelar selama dua pekan, sekolah yang berlokasi di Jalan Bima, Kelurahan Mekarjaya, Kecamatan Sukmajaya ini melibatkan 1.211 siswa dalam berbagai proyek berbasis lingkungan.

Program tersebut menjadi salah satu langkah strategis SMPN 22 Depok dalam mempersiapkan diri menuju sekolah Adiwiyata tingkat Kota, sekaligus menanamkan kesadaran ekologis kepada seluruh peserta didik.

Baca Juga: Pimpinan Yayasan Darul Ulum, Bang Boy : Pengenalan Diri Bentuk Pendekatan Pada Sang Khalik

Kepala SMPN 22 Depok, Titik Sunarsih, menjelaskan bahwa kegiatan kokurikuler tidak sekadar menjadi pelengkap pembelajaran, tetapi dirancang sebagai ruang praktik nyata bagi siswa untuk memahami isu lingkungan secara langsung.

“Melalui kegiatan ini, siswa kami dorong untuk tidak hanya belajar teori, tetapi juga beraksi. Ini menjadi bagian dari upaya kami menuju Adiwiyata tingkat Kota,” ujar dia kepaa Haran Radar Depok, Kamis (16/4).

Dalam pelaksanaannya, setiap jenjang kelas mendapatkan proyek yang berbeda namun saling berkesinambungan. Siswa kelas 7 difokuskan pada kegiatan pemilahan sampah organik. Mereka dikenalkan pada jenis-jenis sampah serta cara memilah dan mengelolanya sejak dari sumber.

Baca Juga: Cuma Butuh Waktu Dua Hari, Jalan Amblas di Cilodong Langsung Diperbaiki DPUPR Kota Depok

Sementara itu, siswa kelas 8 menjalankan proyek pembuatan taman sekolah. Area-area kosong di lingkungan sekolah mulai ditata dan dihijaukan, menciptakan ruang terbuka yang lebih asri sekaligus mendukung suasana belajar yang nyaman.

Adapun siswa kelas 9 mengembangkan proyek pemanfaatan sampah organik dan non-organik. Berbagai inovasi dilakukan, mulai dari pengolahan sampah menjadi kompos hingga pemanfaatan limbah non-organik menjadi produk kerajinan bernilai guna.

Menurut Titik Sunarsih, pendekatan berbasis proyek ini dipilih agar siswa memiliki pengalaman langsung dalam menjaga lingkungan. Selain itu, hasil dari kegiatan tersebut juga diharapkan dapat memberikan dampak nyata bagi kebersihan dan keindahan sekolah.

Baca Juga: Di Tengah Ketidakpastian Dunia, Kelas Menengah Jadi Kunci Ekonomi RI

“Ini bukan hanya kegiatan sesaat, tetapi kami ingin menjadi kebiasaan. Lingkungan sekolah yang bersih dan hijau adalah tanggung jawab bersama,” katanya.

Lebih jauh, ia menambahkan bahwa indikator sekolah Adiwiyata tidak hanya terletak pada fasilitas, tetapi juga pada perilaku dan budaya warga sekolah. Oleh karena itu, keterlibatan seluruh siswa menjadi kunci utama dalam mewujudkan target tersebut.

Antusiasme siswa pun terlihat sepanjang pelaksanaan kegiatan. Mereka terlibat aktif, mulai dari perencanaan hingga eksekusi proyek.

Baca Juga: Belum Genap Seminggu Menjabat, Ketua Ombudsman Hery Susanto Terseret Kasus Korupsi

Halaman:

Tags

Terkini