RADARDEPOK.COM-Upaya penanganan stunting di Kelurahan Serua, Kecamatan Bojongsari, Kota Depok, terus digencarkan aparatur kelurahan dengan menggandeng Kader Posyandu, Puskesmas Bojongsari, beserta stakeholder lainnya, mengingat jumlah data stunting di Serua per Juni 2024 ini mencapai 66 Balita.
Laporan : Aldy Rama
Aparatur Kelurahan Serua saat ini tengah berfokus untuk memberikan pelayanan maksimal, terkhusus kepada para Balita guna menangani stunting yang ada di lingkup masyarakat.
Baca Juga: Paguyuban Warga Lintas Kemirimuka Ingin Imam Budi Hartono jadi Walikota Depok
Wujud penanganan stunting tersebut, dilakukan dengan memberikan sejumlah makanan bergizi kepada Balita stunting maupun mereka yang kekurangan gizi, yang dilaksanakan di Posyandu Kenanga RT5/6, Kelurahan Serua, Kecamatan Bojongsari, Kota Depok, Jumat (28/6).
“Pemberian makanan bergizi tersebut, merupakan salah satu tindak lanjut dari arahan Camat Bojongsari, Rijal Farhan kepada setiap kelurahan yang ada di Kecamatan Bojongsari,” ujar Sekretaris Kelurahan Serua, Komarudin.
Dalam hal ini, Aparatur Kelurahan Serua turut bekerjasama dengan Kader Posyandu, Puskesmas Bojongsari, Ketua RT, RW, dan berbagai stakeholder lainnya, untuk melakukan upaya menekan angka stunting, dengan memberikan makanan bergizi kepada Balita stunting dan kekurangan gizi.
Kegiatan penanganan stunting tersebut, diawali dari Posyandu Kenanga RT5/6 Serua, dengan sasaran 10 Balita stunting dan 8 Balita yang kekurangan gizi. Selain memberikan makanan bergizi, agenda yang berlangsung juga dirangkai dengan senam bersama aparatur kelurahan, Kader Posyandu serta masyarakat.
“Kegiatan ini akan terus dilakukan setiap Jumat. Dan akan menyasar Posyandu lainnya yang tersebar di setiap RW wilayah Serua, dengan harapan Serua terbebas dari stunting,” tutup Komarudin.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Puskesmas Bojongsari, Frovira Brilyandini mengatakan, penanganan stunting tidak semuanya melalui intervensi gizi, karena ada juga bayi stunting tapi gizinya cukup.
“Yang terpenting adalah bayi harus dikontrol tahapan kemampuan kognitif nya,” tutup Frovira Brilyandini.***