Dok Ade Novi For Radar Depok
TURUT SERTA: Penyair asal Kota Depok, Ade Novi bersama sejumlah penyair pria berfoto saat mengikuti even FSIGB di gedung Aisyah Sulaiman, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Sabtu, (1/12).
Penyair asal Kota Depok telah melanglang buana di berbagai daerah dan luar negeri. Bahkan karya penyair produktif ini telah beredar di mancanegara. Kali ini, wanita berhijab itu mengikuti even Festival Sastra Internasional Gunung Bintan (FSIGB) di gedung Aisyah Sulaiman, Jalan Agus Salim, Tanjungpinang Barat, Kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, Sabtu, (1/12).
Laporan : Ricky Juliansyah
Pulau Bintan jauh di tengah
Malam senyap di Bukit Batu
Takkan hilang nama Hang Tuah
Takkan lenyap bumi Melayu
Aku mendaulat pada Hang Tuah
Yang membangun masa lampau
Peradaban di samudra luas
Melayu di bumi beradat
Laksamana di jantung Melaka
Itu lah sepenggal puisi berjudul 'Di Jantung Hang Tuah' karya Penyair asal Kota Depok yang menjadi peserta dalam acara puncak Festival Sastra Internasional Gunung Bintan (FSIGB) di gedung Aisyah Sulaiman, Jalan Agus Salim, Tanjungpinang Barat, Kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, Sabtu, (1/12).
“Alhamdulillah saya jauh-jauh dari Depok dapat berpartisipasi dalam even besar dan bergengsi ini,” kata Novi.
Hal ini menurut Novi sangat membanggakan bagi dirinya pribadi, pasalnya salah satu penyair dan sastrawan perempuan dari Depok ini tiap kegiatan sastra selalu mengatasnamakan kota sejuta maulid, meski tetap saja merogoh kocek pribadi tanpa bantuan dari Pemkot Depok atau dinas terkait.
“Saya cukup senang dengan menjadi peserta di sini membawa nama Depok,” tuturnya.
Pada even tersebut, Novi mengungkapkan, Tujuh perempuan penyair dari berbagai daerah termasuk Novi bersepakat membentuk kelompok bernama Penyair Perempuan Indonesia (PPI). Lantas mereka mendeklarasikan diri pada acara puncak FSIGB tersebut.
Ketua PPI, Kunni Masrohanti mengatakan, PPI dideklarasikan untuk mengingat kembali peran perempuan dalam perjalanan kepenyairan Indonesia seperti pengaruh dan peran perempuan dalam Kerajaan Melayu seperti Tun Fatimah, Tengku Tengah, dan Siti Kamariah seperti yang mereka fahami selama mengikuto FSIGB.
"Begitu banyak pengaruh perempuan dalam kebesaran Kerajaan Melayu dengan segala lika-liku, kesadaran dan kebesaran jiwanya. Begitu juga dengan Pujangga Aisyah Sulaiman dengan karya-karyanya yang turut mewarnai kesusasteraan Indonesia di masanya," kata dia.
Dia melanjutkan, dengan adanya deklarasi PPI tersebut, dirinya berharap agar Penyair Perempuan Indonesia mampu memberikan inspirasi kepada perempuan lainnya untuk tetap mengarah pada tradisi dan mewariskannya pula kepada generasi selanjutnya melalui puisi.
PPI beranggotakan, Ratna Ayu Budhiarti (Jawa Barat), DM Ningsih (Riau, Sumatra), Ummi Risa (Jawa Barat), Ade Novi (Jawa Barat), Rini Iitama (Banten), dan Yuanda Isha (Kepulauan Riau) atau penyair perempuan yang Hadir dalam FSIGB. Sedangkan Rida K Liamsi dan Maman S Mahayana didaulat sebagai Pembina.
''PPI lahir juga Bermula Dari bincang-bincang kecil Bersama Datuk Rida dan Kang Maman. Alhamdulillah mereka sangat mengapresiasi,'' kata Kunni lagi. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau
keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa
seizin redaksi.
Terkini
Jumat, 17 April 2026 | 21:30 WIB
Jumat, 17 April 2026 | 18:28 WIB
Jumat, 17 April 2026 | 18:10 WIB
Kamis, 16 April 2026 | 20:38 WIB
Rabu, 15 April 2026 | 21:25 WIB
Rabu, 15 April 2026 | 18:02 WIB
Rabu, 15 April 2026 | 10:00 WIB
Selasa, 14 April 2026 | 22:31 WIB
Selasa, 14 April 2026 | 20:18 WIB
Selasa, 14 April 2026 | 20:00 WIB
Selasa, 14 April 2026 | 08:57 WIB
Minggu, 12 April 2026 | 10:16 WIB
Jumat, 10 April 2026 | 14:31 WIB
Kamis, 9 April 2026 | 21:59 WIB
Kamis, 9 April 2026 | 18:34 WIB
Rabu, 8 April 2026 | 20:47 WIB
Rabu, 8 April 2026 | 20:12 WIB
Rabu, 8 April 2026 | 19:29 WIB
Selasa, 7 April 2026 | 20:17 WIB
Selasa, 7 April 2026 | 20:12 WIB