“Yang terpenting bukan banyaknya bacaan, tetapi hadirnya hati. Dalam bahasa sufistik, ini disebut rasaning rasa menghadirkan rasa dalam memahami ayat,” jelasnya.
Ia juga mengajak untuk melakukan introspeksi setiap kali membaca Al-Quran. Bukan sekadar membaca, tetapi bertanya dalam hati, apa yang Allah ingin saya pahami dari ayat ini? Nasihat apa yang sedang ditujukan untuk kehidupan saya hari ini. Menurutnya, ketenangan yang diberikan Al-Quran bukan karena ia langsung menghapus semua masalah, melainkan karena ia menata ulang hati yang sedang kacau.
Al-Quran mengingatkan bahwa hidup memiliki landasan, bahwa kesabaran tidak sia-sia, dan bahwa Allah tidak pernah lalai terhadap air mata hamba-Nya.
Baca Juga: Menkomdigi Apresiasi BPJS Kesehatan Hadirkan Layanan Pandawa 24 Jam
Ketika hubungan dengan Al-Quran mulai terbangun dengan baik, cara seseorang menghadapi hidup pun perlahan berubah. Hati menjadi lebih teduh, pikiran lebih jernih, dan jiwa lebih kuat menghadapi berbagai ujian.
“Jangan menunggu sampai hidup benar-benar hancur baru kembali kepada Al-Qur’an,” tegas Bang Boy.
“Mulailah hari ini. Buka mushaf, baca walau sedikit, dan resapi walau belum banyak. Bisa jadi jalan keluar tidak datang dari ramainya dunia, tetapi dari satu ayat yang diam-diam masuk dan menata ulang seluruh isi hati," kata dia.
Pada akhirnya, mengenali diri bukan sekadar memahami siapa kita, tetapi juga menyadari ke mana kita harus kembali. Dan dalam pencarian itu, Al-Quran hadir bukan hanya sebagai bacaan, melainkan sebagai cahaya yang menuntun langkah kehidupan.***
Artikel Terkait
Pemerhati Agama, Sosial dan Budaya, Bang Boy : Sungkeman sebagai Mediasi Keberkahan dan Harmoni Sosial
Kontinuitas Doa Menurut Pimpinan Yayasan Darul Ulum, Bang Boy : Jalan Sunyi Menuju Sang Khalik
Pimpinan Yayasan Darul Ulum, Bang Boy : Syukur Bukan Sekadar Ucapan, tapi Mujahadah Seorang Hamba kepada Sang Khalik
Pimpinan Yayasan Darul Ulum, Bang Boy : Guru Mediasi Mengenal Sang Kholiq