Imam Upayanto sendiri merupakan pemenang penghargaan Nasional produk metaverse dari Dirjen Dikti (Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi).
“Awal kompetisi ini saya sempat ragu karena ajang nasional dan juga metaverse merupakan teknologi baru. Namun dengan bekal menjadi salah satu pemenang membuat saya optimis untuk mencoba,” kata Imam Upayanto.
Menurut Imam Upayanto, segala usaha dan upaya yang dilakukannya membuahkan hasil yang memuaskan diak lepas dari doa orang terdekatnya, yakni orangtua dan istrinya.
“Alhamdulillah. Akhirnya saya menjadi sebagai salah satu pemenang di ajang metaverse tersebut dan wakil indonesia. Saya harap langkah ini bisa menjadi jalan pembuka bagi pengembangan metaverse di negara ini kedepannya,” ungkap Imam Upayanto.
Imam Upayanto menyebut, tantangan utama dalam membangun MGA ini adalah karena harus beradaptasi mengembangkan hal baru karena melihat peserta lain lebih bagus. Namun, hal ini juga menjadi kesempatan untuk belajar dan semakin membawa MGA ini menjadi lebih baik.
“Saya sadar MGA yang sekarang masih terbatas, sehingga butuh banyak referensi untuk menyempurnakannya,” ujar Imam Upayanto.
Targetnya adalah menjadi platform belajar berbasis metaverse yang dipilih oleh masyarakat di indonesia maupun internasional.
“Sebuah platform yang memberikan kemudahan belajar yang personal dan menyenangkan. Selain itu membawa nama Indonesia sebagai pemimpin inovasi teknologi ini,” tandas Imam Upayanto. ***