Kamis, 9 Februari 2023

24 Pahlawan Gugur

- Senin, 6 April 2020 | 09:45 WIB
Ketua Satgas Covid-19 IDI Kota Depok, dr Alif Noeriyanto Rahman.   RADARDEPOK.COM, DEPOK - Pahlawan yang menangani korban virus Korona (Covid-19) kembali gugur. Minggu (5/6), dua dokter dikabarkan meninggal. Artinya, sejauh ini sudah ada 18 dokter yang meninggal sejak virus mematikan ini masuk Indonesia. Tingginya angka kematian bagi tenaga kesehatan, dinilai Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Depok kurangnya transaparan dalam menangani korona. Kepada Radar Depok, Ketua Satgas Covid-19 IDI Kota Depok, dr. Alif Noeriyanto Rahman mengungkapkan, dari satgas Covid-19 IDI Kota Depok turut berduka atas meninggalnya teman sejawatnya. Semestinya Kementerian Kesehatan (Kemenkes) atau Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat bisa mengumumkan tenaga medis yang meninggal atau terjangkit Covid 19. Jadi tidak harus menunggu penderita sendiri atau keluarganya yang menyampaikan. Informasi tentang siapa saja yang tertular, penting untuk memutus mata rantai penularan wabah pandemi ini. “Kami meminta pemerintah untuk lebih transparan mengenai pasien, khususnya tenaga medis yang sudah dinyatakan PDP covid 19 maupun positif," ucapnya saat dihubungi Radar Depok, Minggu (5/6). Lebih lanjut dia menjelaskan, data tersebut sangat diperlukan untuk bisa melacak dugaan penularan virus dan memonitor siapa saja yang terpapar, sehingga mampu memutus mata rantai penularan. Selanjutnya juga harus menjamin ketersediaan Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai standar dan aman bagi para dokter serta tenaga medis. “Dilapangan masih banyak dokter yang memakai APD tidak standar karena minim, susah dan mahal sekali harganya untuk mendapatkan APD," tuturnya. Selain itu, dia juga menyebutkan harus ada jaminan tempat perawatan bagi dokter dan tenaga medis bila seandainya terpapar covid 19, supaya pertolongan bisa lebih cepat. "Kami mengusulkan memperbanyak screening covid 19 dengan rapid tes antigen atau swab tenggorok masal. Bukan seperti sekarang ini, rapid tes yang digunakan saat ini berbasis antibodi yang sering membuat negatif palsu. Sekarang ini banyak pasien yang tampak sehat tetapi membawa virus (carrier) yang bisa menular ke dokternya," jelasnya. Sehingga solusi yang tepat menurutnya, dengan screening massal setiap pasien yang mau masuk rumah sakit dengan rapid tes yang berbasis antigen. Bukan antibodi yang seperti sekarang ini dan semua pasien serta pengunjung rumah sakit wajib memakai masker. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengonfirmasi dua dokter meninggal dunia terkait virus corona (covid-19). Mereka adalah dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan Wahyu Hidayat dan dokter Heru Sutantyo. Dokter Wahyu merupakan anggota IDI cabang Kabupaten Bekasi dan dokter Heru adalah anggota IDI cabang Jakarta Selatan. "Dokter Wahyu dirawat karena (status) PDP covid-19, belum tahu postif. Dokter Heru belum ditelusuri," kata Wakil Ketua Umum PB IDI Adib Khumaidi, Minggu (5/4). Kematian dokter Wahyu dan dokter Heru menambah daftar panjang tenaga medis yang meninggal dunia karena covid-19. Total, sudah 18 dokter meninggal dunia terkait dengan pandemi virus korona. "Dokter sejumlah 18 orang, di luar dari dokter gigi ada empat orang terkait dengan covid-19, ada yang positif dan PDP," tutur Adib. Adib menyatakan IDI menganjurkan para dokter untuk menggunakan alat pelindung diri (APD) standar level 2 yang meliputi kacamata google, sarung tangan, masker n95, dan fesil. Adib mendesak pemerintah untuk dapat memenuhi kebutuhan APD untuk para dokter. "Kalau kuantitas pasti kurang dan selalu dikeluhkan. Pemerintah mesti memfasilitasi mendorong industri dalam negeri untuk memasok APD," tegas Adib. Adib juga menyatakan IDI akan membahas regulasi internal untuk mencegah penularan pada dokter yang bertugas. "Kami akan bahas regulasi internal di dalam pelayanan, termasuk APD dan lainnya itu akan kami bicarakan. Mungkin berupa imbauan atau instruksi misalnya dengan usia tertentu jangan praktek," tutur Adib.(rd/net)   18 Dokter Meninggal Positif Covid19 dan PDP :
  1. Prof. DR. dr. Iwan Dwi Prahasto (GB FK UGM)
  2. Prof. DR. dr. Bambang Sutrisna (GB FKM UI)
  3. dr. Bartholomeus Bayu Satrio (IDI Jakarta Barat)
  4. dr. Exsenveny Lalopua, M.Kes (Dinkes Kota Bandung)
  5. dr. Hadio Ali K, Sp.S (Perdossi DKI Jakarta, IDI Jaksel)
  6. dr. Djoko Judodjoko, Sp.B (IDI Bogor)
  7. dr. Adi Mirsa Putra, Sp.THT-KL (IDI Bekasi)
  8. dr. Laurentius Panggabean, Sp.KJ (RSJ dr. Soeharto Herdjan, IDI Jaktim)
  9. dr. Ucok Martin Sp. P (Dosen FK USU, IDI Medan)
  10. dr. Efrizal Syamsudin, MM (RSUD Prabumulih, Sumatera Selatan, IDI Cabang Prabumulih)
  11. dr. Ratih Purwarini, MSi (IDI Jakarta Timur)
  12. Laksma (Purn) dr. Jeanne PMR Winaktu, SpBS di RSAL Mintohardjo. (IDI Jakpus)
  13. Prof. Dr. dr. Nasrin Kodim, MPH (Guru besar Epidemiologi FKM UI)
  14. Dr. Bernadetta Tuwsnakotta Sp THT meninggal di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo (IDI Makassar)
  15. DR.Dr. Lukman Shebubakar SpOT (K) Meninggal di RS Persahabatan (IDI Jaksel)
  16. Dr Ketty di RS Medistra (IDI Tangsel)
  17. Dr. Heru S. meninggal di RSPP (IDI Jaksel)
  18. Dr. Wahyu Hidayat, SpTHT meninggal di RS Pelni (IDI Kab. Bekasi)
  Jurnalis : Fahmi Akbar : (IG : @akbar.fahmi.71), Lutviatul Fauziah (IG : @lutviatulfauziah) Editor : Pebri Mulya

Editor: Administrator

Tags

Terkini

Banten Gempa, Depok Kena Goyangnya Tapi Tipis-tipis

Selasa, 7 Februari 2023 | 12:58 WIB

Alhamdulillah, 2.080 Honorer Kota Depok Terima SK

Selasa, 7 Februari 2023 | 10:53 WIB

Sehari Dua Nyawa Melayang Secara Tragis di Depok

Selasa, 7 Februari 2023 | 08:20 WIB

Video Syur Mirip Rezky Aditya Masuk Babak Baru

Senin, 6 Februari 2023 | 12:39 WIB

Pak Zulhas di Depok HET MinyaKita Jebol Rp2.000

Senin, 6 Februari 2023 | 07:30 WIB
X