Selasa, 7 Februari 2023

JNC Disomasi Terkait Tayangan Video 'Buang Limbah di Citarum'

- Rabu, 1 Desember 2021 | 23:03 WIB
RADARDEPOK.COM – Sejak Program Citarum Harum dicanangkan Presiden Joko Widodo (Kamis 22/2/2018), untuk pertama kali sebuah perusahaan menggugat media, terkait pencemaran. Presiden bersama Pangdam III/Siliwangi, Mayjen TNI Doni Monardo saat itu, mencanangkan tekad mengembalikan kondisi Sungai Citarum yang saat itu tercemar parah.

Pabrik tekstil PT Budi Agung Sentosa (BAS) melalui kuasa hukumnya, Herwanto SH & Partners melayangkan somasi (teguran hukum) kepada PT Citra Jayakarta Nawa Astha, yang menaungi akun medsos YouTube Jayakarta News Channel. Roso Daras, Pemimpin Redaksi/Penanggungjawab Jayakarta News, membenarkan hal itu.

“Somasi kedua tertanggal 8 November 2021, tetapi baru saya terima hari ini, 30 November 2021. Itu merupakan somasi kedua dan terakhir,” ujar Roso Daras, hari ini (30/11/2021) di Jakarta.

PT BAS melalui pengacaranya, berkeberatan dengan tayangan di akun YouTube JNC berjudul “Inilah Perusahaan yang Berani Menabrak Peraturan Presiden (Buang Limbah di Citarum)”. Video berdurasi 5 menit dan 23 detik itu tayang pada tanggal 20 Oktober 2021. Berikut link video dimaksud: https://youtu.be/8jV6O5QVHYc.

Point kedua somasi, PT BAS menyangkal materi yang ada dalam video tersebut. PT BAS memperkuatnya dengan konfirmasi dan bukti Berita Acara Verifikasi Pengaduan tertanggal 21 Oktober 2021 yang menyimpulkan bahwa PT BAS tidak melakukan kegiatan yang mengakibatkan tercemarnya Sungai Citarum.

Point ketiga, tuntutan dalam somasi berupa penghapusan video tersebut, serta menyampaikan permintaan maaf pada Suratkabar Kompas setengah halaman koran, dan membayar ganti kerugian sebesar Rp5 miliar.

Atas somasi tersebut, Roso Daras menanggapinya sebagai hak masyarakat. “Kita negara hukum, siapa saja yang merasa dirugikan secara hukum bisa melakukan tindakan hukum, termasuk melayangkan somasi,” ujar Roso.

Selain itu, video yang diunggah adalah laporan langsung masyarakat. Video tadi juga menunjukkan fakta adanya anak sungai yang tercemar berat. Air menjadi hitam pekat, serta ada narasi masyarakat yang menyebut PT BAS sebagai pihak yang membuang limbah. “Mereka bisa klarifikasi jika merasa tidak benar, bukan dengan melayangkan somasi,” tambahnya.

Diakui, ia belum memberi tanggapan atas somasi tadi. “Kami berdiri di atas kebenaran dan beritikad ikut menegakkan Peraturan Presiden, dalam hal ini demi pulihnya Sungai Citarum dari predikat sungai terkotor di dunia. Saya siap menghadapi somasi mereka. Silakan saja kalau mau mengajukan hak hukum, baik pidana atau perdata,” tegas Roso yang juga dikenal sebagai penulis buku-buku tentang Bung Karno itu.

Ketika ditanya mengenai sikapnya yang tidak mau menanggapi somasi tadi, Roso enteng menjawab, “Saya tidak akan mundur. Pencemaran Sungai Citarum harus dihentikan. Siapa pun yang melanggar, harus ditindak. Lha ini kok malah melayangkan somasi. Apa jangan-jangan karena ada oknum aparat yang mejadi backing? Ayolah buka-bukaan di pengadilan kalau itu mau mereka,” katanya.

Ia melanjutkan, “Kalau mereka berani membawa ini ke jalur hukum, saya akan gugat balik dan tuntut mereka sebesar lima miliar satu rupiah. Janganlah mengintimidasi media karena mentang-mentang mereka pengusaha kaya dan didukung oknum aparat. Ingat, di atas langit masih ada langit. Kebenaran tidak akan pernah bisa dikalahkan oleh kebohongan,” papar Roso Daras dalam nada tinggi.

Roso mengaku bukan “bonek” (bondo nekad) dalam menanggapi somasi PT BAS. Media yang dia kelola, www.jayakartanews.com dan Majalah Peduli LIngkungan “Jayakarta News” sudah sangat sering menulis seputar problem Citarum, hingga bergulirnya program Citarum Harum, yang dicanangkan oleh Pangdam III/Siliwangi ketika itu, Mayjen TNI Doni Monardo.

“Program yang telah berjalan bagus, kami tulis bagus. Pihak yang mencoba-coba merusak program yang sudah bagus, juga kami ungkap ke khalayak. Kami kan menjalankan fungsi watch dog. Harusnya PT BAS dan para pemilik perusahaan lain, khususnya di sepanjang aliran Sungai Citarum, menjadikan contoh itu sebagai hikmat untuk tidak lagi mencemari Citarum, alih-alih melayangkan somasi,” ujar Roso yang juga Ketua JPKL (Jurnalis Peduli Kesehatan dan Lingkungan) itu.

Ia mengetahui serta punya data dan saksi, bagaimana pabrik-pabrik itu bersikap culas. Membuang limbah lewat saluran IPAL (Instalasi Pembuangan Air Limbah) pada saat ada sidak atau siang hari, dan membuang limbah langsung ke sungai di saat dinihari dan aparat lengah. “Kucing-kucingan kayak maling,” sergahnya. (rd)

Editor : Fahmi Akbar 

Editor: Fahmi Akbar

Tags

Terkini

Video Syur Mirip Rezky Aditya Masuk Babak Baru

Senin, 6 Februari 2023 | 12:39 WIB

Pak Zulhas di Depok HET MinyaKita Jebol Rp2.000

Senin, 6 Februari 2023 | 07:30 WIB

Mimbar Jumat: Panggilan Kemuliaan

Jumat, 3 Februari 2023 | 09:21 WIB

Pengajar Agama Mesum di Depok Dibui 18 Tahun

Kamis, 2 Februari 2023 | 08:25 WIB

Dicurangi Wasit, Depok City Juara II Soeratin Jabar 

Kamis, 2 Februari 2023 | 07:05 WIB

176 Faskes Se-Depok Dilarang Minta Duit

Rabu, 1 Februari 2023 | 08:15 WIB
X