Kamis, 9 Februari 2023

Bareskrim Periksa Ayah dan Anak Pemilik Gudang di Tapos Depok

- Sabtu, 12 November 2022 | 07:39 WIB
TEMUAN: Warga sekitar dibuat geger dengan temuan 59 drum senyawa kimia perusak ginjal oleh BPOM RI Bersama Bareskrim Polri di Jalan Damai RT2/13, Kelurahan/Kecamatan Tapos, Kota Depok, Rabu (9/11). FOTO-FOTO : ANDIKA-ASHLEY/RADAR DEPOK
TEMUAN: Warga sekitar dibuat geger dengan temuan 59 drum senyawa kimia perusak ginjal oleh BPOM RI Bersama Bareskrim Polri di Jalan Damai RT2/13, Kelurahan/Kecamatan Tapos, Kota Depok, Rabu (9/11). FOTO-FOTO : ANDIKA-ASHLEY/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM – Polisi bergerak cepat atas hasil penggerebekan gudang, di Jalan Damai RT2/13, Kelurahan Tapos, Kecamatan Tapos, Kota Depok. Jumat (11/11), Bareskrim Polri segera memeriksa pemilik gudang CV Samudra Chemical (SC) berinisial E dan anaknya T. Penyelidikan kasus ini kuat dugaan akibat merebaknya penyakit gagal ginjal akut, yang telah dioplos dengan Etilen Glikol (EG).

"Rencananya akan memanggil terhadap saudara E selaku pemilik CV SC, saudara T anak dari E dan saksi-saksi, RT dan RW," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Ahmad Ramadhan dalam keterangannya di Mabes Polri, Jumat (11/11).

Hanya saja, Ramadhan belum memastikan waktu pemanggilan. Jadwal pemeriksaan diatur penyidik Bareskrim Polri. Di samping itu, penyidik juga tengah menunggu hasil uji laboratorium terhadap sampel bahan baku. Kemudian, melakukan berita acara pemeriksaan (BAP) tambahan terhadap PT APG dan PT TBK.

https://www.youtube.com/watch?v=CCF5BhbRqnU

"Mencari dokumen terkait pembelian bahan baku tambahan Propilen Glikol (PG) dari PT AF (Afi Farma Pharmaceutical Industries), PT TBK dan PT APG, melakukan pemeriksaan terhadap saksi, ahli korporasi, ahli farmasi dan ahli laboratorium forensik (labfor)," ungkapnya.

Bareskrim Polri menyelidiki CV Samudra Chemical pada Rabu, 9 November 2022 dan menemukan bahan baku Propilen Glikol (PG) atau bahan pelarut dan Etilen Glikol (EG). Bahan PG dan EG itu terdapat di dalam drum atau tong putih bertuliskan label DOW. Berdasarkan penelusuran, DOW adalah PT Dow Chemical yang merupakan sebuah perusahaan kimia multinasional yang berkantor pusat di Midland, Michigan, Amerika Serikat dan merupakan anak perusahaan dari Dow Inc.

Perusahaan tersebut merupakan salah satu dari tiga produsen bahan kimia terbesar di dunia. Dow memproduksi plastik, bahan kimia, dan produk pertanian. "PG dan EG yang berada di dalam drum atau tong putih bertuliskan label DOW diduga merupakan bahan baku tambahan yang di-order PT AF melalui PT TBK dan PT APG," beber Ramadhan.

Ramadhan menyebut, diduga pelaku menggunakan drum atau tong berlabel DOW palsu atau bekas. Kemudian melakukan percikan penambahan atau oplos zat cemaran EG. "Terdapat bahan yang di-order PT AF, sehingga diduga kandungan cemaran di atas ambang batas," ungkap Ramadhan.

https://www.youtube.com/watch?v=Ibvc__dYm3g

Perlu diketahui, gudang senyawa kimia perusak ginjal, Etilen Glikol (EG)/Dietilen Glikol (DEG) bisa bertahan lama, di Jalan Damai RT2/13, Kelurahan Tapos, Kecamatan Tapos, Kota Depok. Lantaran, dalam menjalankan produksinya gudang tersebut acap kali disebut-sebut sebagai pembuatan sabun, minyak wangi dan hand sanitizer, Kamis (10/11). Diperkirakan sudah empat tahun dua gudang tersebut memalsukan bahan baku obat.

Ketua RT2/13 Kelurahan Tapos, Deka mengaku, tak menyangka gudang berisi puluhan drum yang dipalsukan dengan identitas Propilen Glikol (PG) itu digerebek pihak berwajib. Pasalnya, warga sekitar mengira gudang itu merupakan pabrik pembuatan sabun, minyak wangi dan hand sanitizer. “Warga tidak  pernah menaruh curiga, aman-aman  saja sih kami di sini. Saya kurang tahu  kalau soal izin, kayaknya sudah ada ya. Tapi kurang mengerti juga sih,” ungkap Deka kepada Harian Radar Depok, Kamis (10/11).

Menurutnya, para pekerja di gudang dikenal baik dan ramah kepada warga sekitar. Mereka kerap memberikan sembako serta membagikan hand sanitizer saat pandemi untuk para warga di lingkungan tersebut.

Lebih lanjut, beber Deka, para pekerja di gudang itu bukan berasal dari RT2. Warga juga tak pernah menaruh curiga maupun merasa resah, dengan keberadaan gudang berisi cairan berbahaya yang telah berdiri sejak empat tahun lalu itu.

-
TEMUAN: Warga sekitar dibuat geger dengan temuan 59 drum senyawa kimia perusak ginjal oleh BPOM RI Bersama Bareskrim Polri di Jalan Damai RT2/13, Kelurahan/Kecamatan Tapos, Kota Depok, Rabu (9/11). FOTO-FOTO : ANDIKA-ASHLEY/RADAR DEPOK

Sementara itu, warga sekitar juga mengaku kaget dengan diadakannya penggerebekan dan memberikan garis polisi kepada gudang illegal itu. “Saya kurang tahu untuk jam berapanya disidak, pokoknya sudah pada ramai saja di sini sampai macet. Terus pas sudah sepi baru liat di dalam ternyata udah di garis polisi,” singkat Saripah.

Terpisah, Camat Tapos, Abdul Mutolib mengatakan, sangat menyayangkan kejadian yang terjadi di wilayahnya. Ini merupakan kejadian yang lepas dari pantauanya selama menjadi seorang Camat Tapos. “Ini merupakan kejadian yang lepas dari pantauan kami,” ucap Abdul Mutolib saat di temui Harian Radar Depok di Kantor Kecamatan Tapos, Kamis (10/11).

Sebelumnya, Abu -sapaan akrab Abdul Mutolib- mengatakan sudah sering sosialisasi kepada RT dan RW tentang kewilayahan. Seperti, ada hal yang mencurigakan dalam aktivitas masyarakat diwilayahnya segera ditindaklanjuti. “Agar kejadian seperti ini tidak terjadi di wilyahnya masing-masing,” ucapnya.

Terkait perizinan, Abu menjelaskan bahwa sejak lama pihaknya tidak mengeluarkan izin terkait kegiatan tersebut, contohnya seperti domisili usaha. “Domisili usaha ini di keluarkan oleh kelurahan baru di tingklat kecamatan, jadi kalau di kelurahan tidak ada ya di kecamatan tidak ada,” tegasnya.

Di tempat yang sama, Lurah Tapos, Soleh mengungkapkan, hanya mengetahui tempat itu hanya tempat penyimpanan bahan seperti sabun dan hand sanitizer, itu merukan hasil laporan dari RT dan RW serta warganya. “Ya kita hanya tau itu tempat penyimpanan sabun saja, kita tidak tau kalau itu penyimpanan tempat bahan kimia yang berbahaya penyebab gagal ginjal,” tuturnya.

https://www.youtube.com/watch?v=6SlOkCjQx3A&t=523s

Sama halnya, dengan Camat Tapos, Soleh menegaskan tidak ada perizinan terkait tempat usaha tersebut tidak ada, apalagi jika mengetahui tempat tersebut menyimpan zat kimia yang berbahaya untuk masyarakat. “Tidak, tidak ada izin apapun terkait tempat itu,” tegasnya.

Soleh menjelaskan, pihaknya tidak mengetahui adanya tempat penyimpanan itu, baru mengetahui saat ada penggrebekan. “Ini juga merupakan keterbatasan kami tidak bisa menyelidiki  kasus seperti ini, karena ini harus ada orang yang mengerti tentang hal ini,” jelasnya.

Sebelumnya, Badan Pengawas Obat dan Makanan RI bersama Badan Reserse Kriminal Polri berhasil membongkar gudang senyawa kimia perusak ginjal, Etilen Glikol (EG)/Dietilen Glikol (DEG) berkedok pabrik sabun di Jalan Damai RT2/13, Kelurahan Tapos, Kecamatan Tapos, Kota Depok, Rabu (9/11).

Kepala BPOM RI, Penny K. Lukito menyebut, BPOM telah mengambil sampel bahan kimia untuk diuji laboratorium, hasilnya menunjukkan 12 sampel dengan identitas PG terdeteksi mengandung EG dan DEG yang sangat jauh dari persyaratan .

Berdasarkan hasil penelusuran BPOM bersama Bareskrim Polri, diketahui senyawa EG/DEG yang kini dikaitkan dengan kejadian gangguan ginjal akut di Indonesia, dikelola dan dimiliki oleh CV Samudera Chemical selaku distributor bahan baku obat.

Sekitar 59 drum berisi senyawa kimia berbahaya itu masing-masing berkapasitas sekitar 200 liter dan tersimpan di dalam gudang berukuran 3×4 meter persegi di sekitar kebun pisang yang tertutup beton pada lahan fasos fasum, sedangkan separuhnya tersimpan di gudang lain yang tak jauh disitu.

https://www.youtube.com/watch?v=9S3GdrSHBZ4

Pada kemasan bagian luar drum berwarna putih tertempel stiker identitas bertuliskan Propylene Glycol berikut logo perusahaan farmasi bahan baku obat multinasional, The Dow Chemical.

Perlu diketahui, EG/DEG merupakan senyawa yang strukturnya sederhana, tapi memiliki tingkat toksisitas yang tinggi. Hal itu telah diatur dalam European Food Safety Agency (EFSA) maupun Food and Drug Administration (FDA) dan telah dimasukkan daftar toxic substances sehingga terlarang penggunaannya di Indonesia. Sementara PG diizinkan penggunaannya sebagai zat pelarut dan pembawa zat-zat yang tidak stabil atau tidak dapat larut dalam air.

“Harusnya ambang batas cemaran EG/DEG itu 0,1 persen. Tapi sembilan sampel drum terdeteksi kadarnya sampai 52 persen dan ada yang sampai 99 persen. Artinya, hampir 100 persen adalah kandungan EG/DEG, jadi bukan lagi PG,” kata Penny dalam konferensi pers di Depok, Rabu (9/11).

Menurut Penny, temuan itu diduga kuat merupakan bentuk pemalsuan produk bahan baku obat karena pada label mencantumkan PG, padahal isi di dalamnya EG. Dugaan kuat pemalsuan juga tampak dari tulisan The Dow Chemical yang berbeda abjad M pada label. Sebab sejumlah drum ditemukan menggunakan huruf M ganda pada tulisan Chemical

“EG ini adalah zat pencemar yang menimbulkan suspek gagal ginjal hingga kematian karena konsentrasi yang begitu tinggi,” katanya.

Penny mengatakan, jalur distribusi bahan pelarut dari CV Samudra Chamical didatangkan dari CV Anugrah Perdana Gemilang yang juga pemasok utama dari CV Budiartha. Kedua perusahaan distributor itu memasok produk mereka ke industri farmasi PT Yarindo Farmatama yang sebelumnya terbukti menggunakan cemaran EG dan DEG.(ger/mg10/ana/rd)

Jurnalis : Gerard Soeharly, Ashley Angelina Kaesang, Andika Eka 

Editor : Fahmi Akbar 

Editor: Fahmi Akbar

Tags

Terkini

Banten Gempa, Depok Kena Goyangnya Tapi Tipis-tipis

Selasa, 7 Februari 2023 | 12:58 WIB

Alhamdulillah, 2.080 Honorer Kota Depok Terima SK

Selasa, 7 Februari 2023 | 10:53 WIB

Sehari Dua Nyawa Melayang Secara Tragis di Depok

Selasa, 7 Februari 2023 | 08:20 WIB

Video Syur Mirip Rezky Aditya Masuk Babak Baru

Senin, 6 Februari 2023 | 12:39 WIB

Pak Zulhas di Depok HET MinyaKita Jebol Rp2.000

Senin, 6 Februari 2023 | 07:30 WIB
X