RADARDEPOK.COM-Satu dekade lebih Pemerintah Kabupaten Bogor kebingungan menbuang sampah. Kini kabupaten dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia ini berstatus darurat sampah. Volume sampah per hari sebanyak 2.690 ton. Sementara saat ini baru bisa ditangani sebanyak 30 persen atau selitar 807 ton.
Ironis memang, Padahal terdapat dua lokasi tempat pembuangan sampah skala besar di di Bumi Tegar Beriman, yaitu TPA Galuga di Kecamatan Cibungbulang dan TPPAS Lulut Nambo di Kecamatan Klapanunggal.
Baca Juga: Patrick Wilson Jadi Sheriff Tangguh di Film The Hollow Point, Tayang di Bioskop Trans TV Malam Ini!
Namun keduanya hanya statusnya saja berada di Kabupaten Bogor, fisik dan kepemilikannya atas nama orang lain. TPA Galuga dengan luasan 37,7 hektar kepunyaan Pemerintah Kota Bogor dan TPPS Lulut Nambo yang memilili luas sekitar 55 hektar adalah milik Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Pemkab Bogor sampai sekarang masih mengandalkan TPA Galuga sebagai lokasi pembuangan sampah akhir. Pemkab Bogor memanfaatkan TPA Galuga dengan sistem perjanjian kerjasama (PKS) per lima tahun dari Pemkot Bogor.
PKS pengelolaan sampah di TPA Galuga diperpanjang pada 31 Desember 2020 dan akan berakhir 31 Desember 2025.
Pemkab Bogor sepertinya akan tetap menggunakan TPA Galuga sebagai tempat pembuangan sampah akhir, sampai TPPAS Lulut Nambo berfungsi sebagaimana yang digemborkan.
Hal ini terungkap dalam rapat koordinasi antara Pemkab Bogor dan Pemkot Bogor, Senin (19/5/2025). "Kerjasama penggunaan TPA Galuga dengan Pemkot Bogor sedang dikaji," ujar Bupati Bogor Rudy Susmanto.
Baca Juga: TERNYATA! 9 BUMN Berhutang ke BJB hingga Rp3,5 Triliun, Bunganya 0 Persen
Kajian akan menentukan durasi dan MoU PKS pengelolaan sampah antara Pemkab Bogor dengan Pemkot Bogor.
"Pemkab Bogor juga akan melakukan kajian ulang terhadap penggunaan TPA Galuga, menyusul adanya teguran dan sanksi administratif dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) terkait buruknya pengelolaan sampah di lokasi tersebut," katanya.
Rudy Susmanto menyebut pentingnya semangat kebersamaan antara kedua wilayah yang memiliki sejarah dan akar yang sama.
"Tentunya kita bersama-sama. Kita lahir dari wajah yang sama, lalu tumbuh dan berkembang dari sebuah proses pemekaran wilayah. Kita ingin tetap bersinergi, bersama-sama membangun," ungkap Rudy.