RADARDEPOK.COM – Pengamat politik Yusfitriadi menyebut, deklarasi Anies Baswedan – Muhaimin Iskandar (Cak Imin) sebagai pasangan calon presiden (capres) dan wakil presiden (cawapres) mengindikasikan adanya skenario dua pasangan calon ada Pilpres 2024.
Menurut Yusfitriadi, indikasi adanya skenario dua pasangan calon pada Pilpres 2024, bisa dilihat dari lima hal.
Pertama, adannya poros politik yang menghendaki dua pasangan calon pada Pilpres 2024.
Secara tidak langsung, menurut Yusfitriadi, PDIP sebelumnya menghendaki kontestasi Pilpres 2024 hanya diikuti oleh dua pasangan calon.
Baca Juga: Sambut Peluncuran Logo dan Maskot Piala Dunia FIFA U-17, Erick Thohir: Menuju 69 Hari Lagi
Menurut Yusfitriadi, keinginan PDIP bukan tanpa dasar. Sebab, pada Pilpres 2014 dan 2019, hanya dua pasangan yang bertarung.
“Pasangan calon pada Pilpres 2014 adalah, Jokowi-Jusuf Kalla dan Prabowo-Hatta. Begitupun di 2019, hanya diikuti dua pasangan calon yaitu, Jokowi-Ma'ruf dan Prabowo-Sandiaga Uno,” kata Yusfitriadi.
Tidak hanya itu, dalam konteks saat ini hampir semua lembaga survei menempatkan Ganjar Pranowo dalam psosisi yang tidak aman ketika lebih dari dua pasangan calon.
Hal kedua, adanya pertemuan Surya Paloh dan Jokowi. Pertemuan keduanya terjadi pada 31 Agustus 2023.
Baca Juga: 6 Rekomendasi Hotel Terbaik di Margonda Raya Depok dengan Harga Terjangkau
Sehari setelahnya, beredar luas di jagat maya bahwa PKB menerima tawaran Nasdem dan Anies, untuk menjadikan Cak Imin sebagai calon presiden dan koalisi perubahan dan persatuan.
“Hal ini dilakukan tanpa dikomunikasikan terlebih dahulu kepada partai koalisi yang lain, PKS dan Demokrat,” terang Yusfitriadi.
Padahal, lanjut Yusfitriadi, sebelum Surya Paloh bertemu dengan Jokowi, tidak ada isu menyatukan Anies dengan Cak Imin.
Yang ada saat itu adalah isu Golkar dan PAN yang akan bergabung dengan Prabowo Subianto.