Menanggapi kemungkinan dampak kerja sama ini terhadap hubungan dengan negara lain, termasuk Amerika Serikat, Bahlil menegaskan bahwa langkah tersebut murni didasarkan pada kebutuhan nasional.
Ia menyebut kebutuhan impor minyak Indonesia mencapai sekitar 300 juta barel per tahun, sehingga kerja sama dengan berbagai negara menjadi hal yang wajar dan strategis.
“Kebutuhan crude kita setiap tahun itu kurang lebih sekitar 300 juta barrel. Jadi semuanya kita ambil. Mana yang menguntungkan untuk negara harus kita lakukan,” pungkasnya.***