Minggu, 19 April 2026

Makna Esensial Qurban Pada Masa Pandemik New Normal

Administrator, Radar Depok
- Selasa, 21 Juli 2020 | 20:00 WIB
  Oleh: Dr. Heri Solehudin Atmawidjaja Direktur Heri Solehudin Center, Anggota Forum Doktor Universitas Indonesia, Dosen Pascasarjana UHAMKA Jakarta dan Wakil Ketua PDM Kota Depok   BULAN ini merupakan bulan yang sangat bersejarah bagi kita umat Islam, yaitu Hari Raya Idul Adha (10 Dzulhijah 1441 H), meskipun pemerintah secara resmi telah membatalkan keberangkatan Ibadah Haji ke Tanah Suci karena masih dalam kondisi pandemik Covid-19. Akan tetapi tentu tidak mengurangi rasa khidmat kita dalam menyambut datangnya Hari Raya Idul Adha tahun ini, bagi saudara-saudara kita yang memiliki kemudahan dan kelapangan rezeki sangat dianjurkan untuk menyembelih hewan qurban. Nabi Muhammad SAW menyatakan, "Siapa yang memiliki kelapangan rezeki, tetapi tidak berqurban, maka jangan sekali-kali mendekati masjid kami." (HR At-Thabrani). Pada dasarnya, penyembelihan hewan qurban itu mengandung dua nilai yakni kesalehan individu dan kesalehan sosial. Kesalehan individu berarti dengan berqurban, ia telah melaksanakan perintah Allah SWT sebagai perwujudan pendekatan diri kepadaNya. Qurban dikatakan sebagai kesalehan sosial karena selain sebagai ritual keagamaan, juga mempunyai dimensi kemanusiaan. Bentuk solidaritas kemanusiaan ini termanifestasikan secara jelas dalam pembagian daging qurban. Perintah berqurban bagi yang mampu ini menunjukkan bahwa, kaum muslimin dilatih untuk peduli dan mempertebal rasa kemanusiaan, mengasah kepekaan terhadap masalah-masalah sosial serta mengajarkan sikap saling menyayangi terhadap sesama. Tradisi berqurban merupakan teladan kekasih Allah (Khalilullah) Ibrahim AS. Beliau diperintahkan Allah SWT untuk menyembelih anak kesayangannya, Ismail AS, melalui sebuah mimpi. Ketika sang ayah meminta pendapatnya mengenai perintah Allah untuk menyembelihnya, sang anak (Ismail) justru meneguhkan keyakinan ayahnya. "Wahai Ayahanda, lakukanlah apa yang telah diperintahkan oleh Allah kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapati diriku termasuk orang yang sabar," (QS Ash-Shaffat [37]: 102). Sang ayah dan anak sama-sama tunduk dan patuh dengan penuh keikhlasan dan kesabaran menerima ujian iman dari Allah SWT. Ketegaran Ibrahim AS dan kebugaranmental Ismail AS dalam menerima ujian iman dari Allah untuk berkurban menunjukkan bahwa ibadah qurban memerlukan kesadaran, kesabaran, komitmen kuat, dan kecerdasan spiritual yang tinggi. Dasar Hukum Berqurban Ada beberapa dalil yang menjadi dasar syariat diperintahkannya ibadah qurban kepada umat Islam, baik dari Al-Qur’an, Hadits Nabi, maupun Ijma (pendapat ulama). Dalil qurban yang pertama adalah QS. Al-Kautsar ayat 2: Yang artinya: “Maka kerjakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah), di samping surat Al-Kautsar, anjuran berqurban juga terdapat dalam QS. Al-Hajj ayat 34: Yang artinya: “Dan bagi tiap-tiap umat telah kami syariatkan penyembelihan (qurban) supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan yang Maha Esa, karena itu berserahdirilah kamu kepada-Nya, dan berilah kabar gembira pada orang-orang yang tunduk (patuh) pada Allah.” Selain ayat Al-Qur’an diatas seruan berqurban juga bisa ditemukan pada Hadits Rasulullah: “Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah radhiallahu ‘anhu bahwasanya dia berkata, “Saya menghadiri shalat Idul-Adha bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di mushalla (tanah lapang). Setelah beliau berkhutbah, beliau turun dari mimbarnya dan didatangkan kepadanya seekor kambing. Kemudian Rasulullah SAW menyembelihnya dengan tangannya, sambil mengatakan: Dengan nama Allah. Allah Maha Besar. Kambing ini dariku dan dari orang-orang yang belum menyembelih di kalangan umatku.” Esensi Qurban dalam Dimensi Sosial Ekonomi Berqurban merupakan bukti ketulusan cinta Ilahi yang sejati sekaligus bukti aktualisasi ketaqwaan seorang hamba kepada Allah SWT. "Daging dan darah [dari hewan yang diqurbankan] itu sama sekali tidak sampai kepada Allah. Akan tetapi yang sampai dan diterima oleh Allah adalah kualitas taqwa yang ada pada diri kalian yang berkurban. Esensi berqurban bukan sekadar meritualkan penyembelihan hewan kurban, melainkan juga transformasi diri menuju kepribadian Muslim yang bertaqwa dalam arti bebas dari penjajahan hawa nafsu dan sifat kebinatangan yang rendah. Dimensi sosial Idul Qurban tidak hanya berhenti pada pembagian daging qurban kepada para mustahik (yang berhak menerimanya), tapi terus berlanjut dengan signifikansi peningkatan kualitas pangan dan gizi warga bangsa. Bagi mayoritas fakir miskin, mengonsumsi daging boleh jadi hanya setahun sekali saat menerima daging qurban. Tak jarang, atas nama kemiskinan, sebagian penerima daging qurban itu menjual dagingnya kepada pihak lain untuk dapat mencukupi kebutuhan hidupnya. Jadi, melalui ibadah qurban sejatinya kita diimbau kembali mendata, menyantuni, dan memberdayakan para mustahik agar kualitas hidup mereka meningkat, tidak kekurangan pangan dan gizi. Idealnya, ibadah qurban itu menjadi momentum kebangkitan ekonomi kerakyatan. Petani, peternak, dokter hewan, pengusaha, penjagal, perajin kulit binatang, pengelola masjid,  dapat bersinergi membuat perencanaan dan pengembangan peternakan hewan yang sehat dan dapat mencukupi kebutuhan pequrban. Potensi sosial ekonomi dari mata rantai penyembelihan dan pembagian daging kurban ini perlu dipikirkan bersama untuk dijadikan salah satu solusi pengangguran dan pemberdayaan ekonomi kreatif umat. Spirit Qurban dalam Membangun Kesolehan Sosial Kesolehan sosial dalam Al-Qurán disebut dengan istilah itsar (mendahulukan orang lain). Itsar merupakan kemuliaan bagi jiwa yang membuat seseorang menahan dirinya dari keperluan yang dibutuhkan olehnya untuk diberikan kepada orang lain yang lebih membutuhkan. Kesolehan yang ideal menurut Al-Qur'an adalah kesolehan yang memadukan secara sinergis antara kesolehan ritual dan kesolehan sosial. Perpaduan tersebut, boleh jadi, karena dalam setiap kesolehan ritual terdapat unsur kesolehan sosial, demikian pula sebaliknya. Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa kesolehan-kesolehan ritual tanpa kesolehan sosial adalah kesolehan yang tidak berarti bagi kehidupan sosial. Dalam perspektif Antropologi Agama, Qurban itu merupakan ritualitas simbolik yang kaya makna, simbol-simbol dalam ibadah qurban tidak hanya penting membentuk perilaku keberagamaan konstruktif, tetapi juga signifikan menjalin kekerabatan dan kebersamaan sosial. Oleh karena itu, penyembelihan hewan qurban itu simbol pendekatan spiritual seorang hamba kepada Tuhannya, sekaligus pendekatan sosial kemanusiaan dengan sesamanya. Pemaknaan seperti inilah yang memberikan spirit esensial yang akan menemukan relevansinya dengan kondisi bangsa kita sekarang yang sedang dalam fase menghadapi pandemik covid New Normal saat ini. Pengaruh Idul Qurban di Masa Pandemik Covid New Normal Dampak pandemik Covid-19 seakan menggoyahkan perekonomian Indonesia karena negara mengalami pelemahan dalam berbagai sektor ekonomi, mayoritas masyarakat yang merasakan dampak ekonomi secara langsung adalah pada tingkat rumah tangga, mayoritas masyarakat saat ini menilai kondisi ekonomi rumah tangga lebih buruk atau jauh lebih buruk dibandingkan dengan tahun lalu, fase New Normal yang di tetapkan oleh pemerintah belum bisa memberikan harapan dan angin segar bagi pertumbuhan ekonomi kita yang terhempas badai covid-19, kondisi berbeda justru ketika kita melihat geliat pasar hewan qurban yang begitu marak, baik dipasar permanen maupun di stand-stand penjualan hewan qurban dipinggir jalan, kondisi yang seakan tidak terpengaruh pandemik covid-19. Idul Qurban ini bisa menjadi momentum kebangkitan ekonomi yang terhempas pandemik di era New Normal ini, petani, peternak, dokter hewan, pengusaha, penjagal, perajin kulit binatang, pengelola masjid, bersinergi, potensi sosial ekonomi dari mata rantai penyembelihan dan pembagian daging qurban ini juga akan sangat dirasakan oleh masyarakat yang terdampak covid-19, baik masyarakat yang terdampak secara langsung maupun tidak langsung. Ibadah qurban mencerminkan akan syarat ibadah ruhiyah dan juga ibadah sosial dalam satu kesatuan yang utuh, ditinjau dalam sudut pandang ekonomi Islam, qurban menjadi salah satu sarana distribusi dimana konsep distribusi dimasukkan di dalamnya unsur keadilan dan pemerataan, pemenuhan kebutuhan fakir dan miskin menjadi pokok utama pendistribusian daging hewan qurban, sedangkan kerabat dan juga si pequrban tetap diperhatikan. Tingkat kepedulian antar sesama meningkat disebabkan interaksi sosial yang terjalin, ini bisa menjadi ruh dan semangat baru kita dalam menghadapi pandemik covid-19 di era New Normal saat ini. Kesimpulan a. Hakikat berqurban pada dasarnya merupakan manifestasi rasa syukur kita sebagai hamba terhadap nikmat dan karunia Allah SWT yang luar biasa banyak dan besar agar supaya dimanifestasikan pada tataran sosial yang konkrit. b. Ibadah Qurban tidak sekadar mengandung dimensi religius sebagai suatu ritual penyembelihan hewan atau ternak. Jika pemaknaan qurban berhenti pada tataran penyembelihan ternak, maka wawasan rahmat universal dari kehadiran Islam telah tereduksi dan  ereksploitasi. Artinya, lebih daripada itu makna qurban sarat dengan nilai so sial, agar supaya dimanifestasikan pada tataran sosial yang konkrit mengajarkan kepekaan sosial, empati terhadap pelbagai persoalan yang menimpa orang lain, sehingga setiap individu ataupun kelompok sosial terjamin hak-haknya sebagai manusia yang merdeka dan bermartabat. c. Ditengah kondisi krisis multidimensi saat ini nilai-nilai esensial qurban bisa menjadi ruh dan semangat baru kita, terutama dalam menghadapi pandemik covid-19 di fase adaptasi kebiasaan baru saat ini. (*)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

Teman Baik Mediasi Dekat Dengan Tuhan

Minggu, 12 April 2026 | 09:56 WIB

Penghitungan Ebitda di SPT Tahunan Pph Badan

Jumat, 10 April 2026 | 18:45 WIB

Lebaran Depok dan Maknanya

Kamis, 9 April 2026 | 13:54 WIB

Serba-serbi SPT Tahunan Suatu Tinjauan

Rabu, 11 Maret 2026 | 22:46 WIB

Membangun Komunikasi Inklusif Bagi Difabel

Kamis, 11 Desember 2025 | 19:43 WIB

Satu Negeri Dua Realitas

Jumat, 28 November 2025 | 08:55 WIB

Pahlawan Hari Ini

Senin, 10 November 2025 | 19:20 WIB
X