RADARDEPOK.COM, Nisfu Sya’ban adalah peringatan pada tanggal 15 bulan kedelapan (Sya’ban) dari kalender Islam. Pada Nisfu Sya’ban juga dikenal sebagai Laylatul Bara'ah atau Laylatun Nisfe min Sya’ban di dunia Arab dan sebagian di Afghanistan, Bangladesh, Pakistan, Iran, dan India. Nama-nama ini diterjemahkan menjadi "malam pengampunan dosa", "malam berdoa" dan "malam pembebasan", serta seringkali diperingati dengan berjaga sepanjang malam untuk beribadah. Di beberapa daerah, peringatan Nisfu Sya’ban biasanya secara turun temurun sekaligus dijadikan momentum untuk mengenang para leluhur. Didalam beberapa Riwayat hadist juga disebutkan bahwa malam Nisfu Sya’ban merupakan saat dimana dosa-dosa orang mukmin diampuni, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits riwayat Baihaqi:
"Rahmat Allah turun ke bumi pada malam Nisfu Sya’ban. Dia akan mengampuni segala sesuatu kecuali dosa musyrik dan orang yang di dalam hatinya tersimpan kebencian [kemunafikan]".
Malam Pengampunan Dosa
Dalam pandangan Islam seberapa besarnyapun dosa seseorang maka Allah akan mengampuninya, akan tetapi ada syaratnya. Syaratnya adalah bahwa orang yang berdosa tersebut mau mengakui dosa-dosanya dan menyatakan penyesalan atas semua dosa-dosanya kemudian mohon ampun kepada Allah dengan sunguh-sungguh (Taubatannashuuha). Dengan kata lain bahwa orang yang akan diampuni dosanya oleh Allah hanyalah orang yang mau bertaubat dan memohon ampun kepada-Nya sebagaimana firman Allah:
Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S, 39:53)
Dalam perspektif sejarah sejak zaman Jahiliyah masyarakat Arab tempo dulu melakukan sesuatu yang berbeda ketika memasuki bulan Sya’ban. Mereka membentuk kelompok-kelompok kecil untuk mencari sumber air ke padang pasir. Masyarakat melakukan itu untuk mempersiapkan datangnya bulan ke 9, yakni bulan Ramadhan dimana bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat panas dan terik membakar dan mata air pada bulan ini dipastikan akan kering, sehingga perlu persediaan air yang cukup ketika memasuki bulan Ramadhan.
Metaforis Nisfu Sya’ban
Setelah Islam datang, hal itu tetap dipertahankan. Namun, terdapat metafora yang dipakai oleh masyarakat ketika memasuki bulan Ramadhan. Suasana yang panas, terik, dan membakar dipersepsikan sebagai sebelum bulan Ramadhan dimulai, masyarakat perlu membakar semua dosa-dosanya. Untuk itu perlu persiapan sebelum bulan Ramadhan dimulai. Air yang disiapkan untuk bulan Ramadhan adalah air spiritual. Air yang menumbuhkan nilai ketaaatan dan meyuburkan hati yang kering Jika tidak dimulai dengan sya’ban, maka akan susah untuk melakukan segala amalan di bulan Ramadhan.
Secara metafora, nilai itu dibawa untuk meningkatkan amal secara syariat dan spiritual. Sehingga bulan Sya’ban dapat diartikan sebagai bulan persiapan untuk menuju Ramadhan. Sebagaimana masyarakat Arab pra Islam mengumpulkan air untuk persiapan bulan ke 9, maka air berikutnya yang kita persiapkan menuju Ramadhan adalah air-air spiritual yang tidak hanya dapat menghilangkan dahaga, tapi juga yang bisa menumbuhkan nilai-nilai ketaatan. Dengan air spiritual yang disiramkan, maka bisa menyuburkan hati-hati yang kering hingga memunculkan bunga-bunga amal sholeh dan buah kebaikan.
Makna metaforis tersebut sekaligus menjelaskan bahwa malam nisfu sya’ban hanyalah awal dari suatu prosesi pensucian diri kita, hati kita, jiwa kita didalam rangka memasuki gerbang bulan penuh keberkahan yakni bulan Ramadhan. Proses pensucian inilah yang dijanjikan oleh Allah dengan memberikan suatu hadiah besar yaitu pengampunan terhadap dosa-dosa kita, ketika kita secara tulus dan bertaubat memohon ampunan dari Alloh SWT.
“Allāhumma sallimnī li Ramadhāna, wa sallim Ramadhāna lī, wa sallimhu minnī”.
“Ya Allah, selamatkanlah aku (dari penyakit dan uzur lain) demi (ibadah) Bulan Ramadhan, selamatkanlah (penampakan hilal) Ramadhan untukku, dan selamatkanlah aku (dari maksiat) di Bulan Ramadhan.
Wallahu’alam.
*)Penulis: Dr. H. Heri Solehudin Atmawidjaja (Dosen Pascasarjana Uhamka Jakarta, Anggota Forum Doktor Sospol UI, Wakil Ketua PDM Kota Depok).