Dominasi mahasiswa dari luar yang kuliah di UIM cukup beralasan. Sejak didirikan pada 1961 sesuai keputusan resmi Raja Saud bin Abdul Aziz, kampus itu menjadi sarana penyebaran Islam ke seluruh dunia.
Tak heran jika UIM didominasi fakultas tentang keislaman. Mulai syariah, Alquran, hadis dan studi Islam, dakwah dan ushuluddin, hingga bahasa Arab. Meski demikian, di kampus itu juga terdapat fakultas umum seperti hukum, komputer dan sistem informasi, teknik, serta sains.
Setiap tahun ajaran, yang diterima paling banyak 180 mahasiswa per fakultas. Peminatnya cukup banyak. Sebab, UIM menerapkan konsep gratis 100 persen.
Bukhori menceritakan, skema beasiswa yang diberikan adalah beasiswa penuh. Selain dibebaskan dari semua biaya pendidikan, para mahasiswa diberi beragam fasilitas lain secara gratis. Mulai asrama pemondokan, makan, hingga buku. ’’Tiap kamar berisi empat mahasiswa, katanya.
Baca Juga: Gaji 13 ASN Depok Macet Gara-gara Dinas Belum Ajukan TPP, Padahal BKD Siapkan Anggaran Segini!
Semua mahasiswa juga mendapat uang saku bulanan sebesar 850 riyal atau setara Rp 3,5 juta. Termasuk tiket pulang kampung ke negara asal pulang pergi (PP).
Uang saku mudik itu hanya diberikan saat masa libur panjang seperti saat ini. Jika ingin pulang di luar waktu itu, biaya tidak ditanggung kampus.
Jika mahasiswa ingin mencari makanan di luar jatah rutin kampus, mereka juga bisa membeli berbagai makanan yang tersedia di area kampus. Jika beli makanan di luar, nanti ada diskon, katanya.
Baca Juga: Wakil Walikota Imam Budi Hartono: Depok Masuk 11 Kota Mudah Dikembangkan, Ini Alasan Mendagri
Jika diakumulasi, nominal beasiswa yang dikeluarkan pemerintah Arab Saudi untuk tiap mahasiswa di UIM tidak sedikit. Dari hitungan kami, lebih dari Rp 1 miliar sejak awal masuk hingga lulus di tiap jenjang, jelasnya.
Dari semua fakultas yang ada di UIM, mayoritas mahasiswa asal Indonesia meminati fakultas tentang keislaman. Misalnya, syariah, Alquran, hadis, dan akidah.
Meski seleksinya cukup ketat, sejatinya persyaratan yang harus dipenuhi para calon mahasiswa yang berminat masuk UIM tidak spesifik. Misalnya, harus lulusan pesantren atau mahir berbahasa Arab. Siapa pun boleh untuk ikut tes, ujar Zulmar.
Baca Juga: Server Pendaftaran PPDB Jabar di Depok Eror Seharian, TK, SD dan SMP Siang Mulai Lancar
Dia mencontohkan dirinya sendiri. Sebelum masuk UIM, dia tercatat sebagai mahasiswa semester V di UIN Walisongo, Semarang. Setelah mendengar informasi rekrutmen calon mahasiswa UIM, dia tertarik untuk ikut.
Setelah diberi tahu bahwa bahasa Arab bukan syarat mutlak, dia akhirnya memberanikan diri untuk ikut seleksi.