RADARDEPOK.COM - Sebagai generasi muda kita tentu tidak ingin menjadi generasi yang jumud, stagnan dan statis, tetapi kita harus menjadi generasi yang progresif dan visioner.
Karena itu dengan semangat persatuan Ukhuwah Islamiyah dan Ulhuwah Wathoniyah, pemuda Indonesia harus menjadi Lokomotif Gerakan Perubahan, sehingga Pemilu 2024 menjadi pintu gerbang kesejahteraan Bangsa Indonesia.
Baca Juga: Mengintip Keseruan The Girl Fest Roadshow Bandung hari Kedua, ada Nagita Slavina hingga Dwi Sasono
Sumpah Pemuda merupakan ikrar putra-putri bangsa dalam mengikatkan dirinya menjadi satu kesatuan dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tanggal 28 Oktober 1928.
Pada tanggal tersebut, pemuda-pemuda dari berbagai organisasi dan suku bangsa di Indonesia berkumpul di Jakarta (saat itu masih dikenal sebagai Batavia) untuk menyatakan tekad mereka dalam mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Baca Juga: Hari Santri, Hari Sumpah Pemuda dan Kebangkitan Indonesia
Mereka bersumpah untuk bersatu, berjuang, dan berbakti kepada Tanah Air Indonesia, serta menjunjung tinggi bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia. Sumpah Pemuda merupakan awal dari gerakan menuju tercapainya kemerdekaan bangsa Indonesia.
Meskipun Indonesia telah merdeka selama puluhan tahun, makna ini tetap relevan dalam konteks menjaga kedaulatan negara dan menjauhkan diri dari tekanan asing.
Baca Juga: Forum Anak Kelurahan Mekarjaya Gelar Pemilihan Ketua
Dalam konteks bangsa Indonesia saat ini kita harus terus memelihara semangat persatuan, menghormati keberagaman, dan bekerja sama untuk menghadapi tantangan-tantangan yang ada.
Dengan merujuk pada nilai-nilai Sumpah Pemuda, generasi terbaru dapat berperan aktif dalam membangun Indonesia yang lebih kuat dan harmonis.
Hal ini wajib kita lakukan karena dalam kurun beberapa tahun terakhir ini bangsa kita berada pada titik yang sangat memperihatinkan.
Baca Juga: Wakil Walikota Depok Hadiri Maulid Nabi Muhammad SMPN 29 Depok
Persatuan dan kesatuan bangsa dibelah, ada kelompok yang diklaim sebagai paling NKRI sementara kelompok lainnya disebut makar dan anti NKRI.
Umat juga dibelah dan dipecah-pecah ada yang disebut Islam Pancasilais dan ada yang disebut anti Pancasila dan akan mengganti Pancasila, tuduhan dan kalim sepihak yang justru sangat membahayakan persatuan dan kesatuan antar sesama anak bangsa seringkali disampaikan justru oleh pihak-pihak yang mewakili kelompok istana.
Artikel Terkait
Wakil Walikota Depok Hadiri Maulid Nabi Muhammad SMPN 29 Depok
Hindari Dampak Negatif di Era Digital, MIP Al Muhajirin Gelar Seminar Literasi Media Bagi Guru dan Orang Tua
Chelsea Islan, Syifa Hadju hingga Sarah Sechan Ramaikan The Girl Fest Roadshow Bandung
Ribuan Anak Yatim di Depok Berdoa di Ultah Ganjar
Tempat Wisata Terbaru Kampung Febri Gak Jauh dari Depok, Ada Wahana Permainan, Cafe, Hingga Penginapan