Bey juga mengingatkan pentingnya kerja sama antara TNI, Polri, kepala desa, dan warga setempat. “Dalam situasi seperti ini, kita harus saling percaya dan tidak mudah curiga. Jangan sampai ada pihak yang mencoba mengambil keuntungan dari bencana ini,” tegasnya.
Pihaknya mengimbau agar masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana alam, terutama yang dipicu oleh hujan intensitas tinggi. “Bencana pergerakan tanah ini adalah fenomena alam, dan kita semua harus lebih berhati-hati dan waspada,” pinta Bey.
Perbaikan Jalan Dikebut
Sementara itu, Kepala Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang (BMPR) Provinsi Jawa Barat, Bambang Tirtoyuliono kepada Radar Sukabumi menjelaskan, bahwa sejumlah ruas jalan dan jembatan mengalami kerusakan parah. “Untuk perbaikan jalan yang terputus, kami targetkan satu setengah bulan. Di lokasi bencana, ada enam titik jalan provinsi yang terputus,” kata Bambang kepada Radar Sukabumi saat mendampingi Pj Gubernur Jawa Barat, Bey Machmudin melakukan peninjaun ke lokasi bencana retakan tanah di Kampung Cihonje, Desa Sukamaju, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi pada Kamis (05/12).
Bambang juga menambahkan, fenomena hidrometeorologi ini memang sudah bisa diprediksi sebelumnya, namun dampaknya lebih besar dari yang diperkirakan. “Intensitas hujan yang tinggi berpotensi menyebabkan kerusakan seperti yang terjadi di Kabupaten Sukabumi,” katanya.
Beberapa ruas jalan yang terdampak antara lain adalah jalan Cikidang, Pelabuhanratu, serta jalan Loji menuju Puncak Darma Geopark. “Ada sekitar 14 titik longsor yang terjadi per 4 Desember 2024. Namun demikian, yang kerusakan parah hanya 6 titik yang jalannya putus. Beberapa titik, seperti di jalan Loji-Puncak Darma, mengalami kerusakan parah, termasuk jembatan yang patah akibat erosi sungai,” bebernya.
Menurutnya, jalan Loji-Puncak Darma dan jembatan Cilengka juga mengalami kerusakan akibat geseran sungai yang menggerus struktur jalan. Sementara, untuk jalur menuju Ciletuh, Bambang menginformasikan bahwa pengguna jalan akan dialihkan sementara waktu menggunakan jalur alternatif lain.
Baca Juga: Tanpa Oven Tanpa Mixer, Tapi Bisa Menghasilkan Kue yang Cantik dari Olahan Singkong
“Kami mohon maaf kepada pengguna jalan menuju Ciletuh, sementara akses ini akan dialihkan melalui rute alternatif. Mudah-mudahan dalam satu setengah bulan, jalur utama ini dapat diperbaiki dan dapat dilalui kembali,” jelasnya.
PENYEBAB UTAMA BANJIR
Banjir yang terjadi di Sukabumi ternyata akibat meluapnya sejumlah sungai yang melintas di kawasan tersebut. Pernyataan ini disampaikan Kepala Dinas (Kadis) Sumber Daya Air (SDA) Provinsi Jawa Barat, Dikky Achmad Sidik, saat meninjau lokasi mendampingi Pj Gubernur Jawa Barat, Bey Machmudin di Kampung Cihonje, Desa Sukamaju, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi pada Kamis (05/12).
Menurut Dikky, bahwa bencana banjir yang terjadi di wilayah Kabupaten Sukabumi kali ini, tergolong luar biasa. Ia menilai, curah hujan yang tercatat di wilayah Sukabumi, terutama pada Selasa (03/12) dan Rabu (04/12), menunjukkan angka yang sangat ekstrem.
“Pada Selasa malam, data yang kami rekap pada Rabu pagi menunjukkan ada beberapa pos curah hujan yang angkanya sangat tinggi, ada yang mencapai 200 mm. Bahkan, 261 mm per hari. BMKG sendiri menyatakan bahwa curah hujan lebih dari 150 mm per hari dan itu sudah dianggap ekstrem,” jelas Dikky.
Artikel Terkait
Waspadai Gempa Megathrust! Pelajar di Kecamatan Cimanggis Depok Jalani Mitigasi Bencana, Minimalisir Timbulnya Korban Jiwa
146 Rumah Korban Bencana Dapat Bantuan dari PMI Kota Depok
Sukabumi Darurat Bencana : 27 Desa Dihujam Banjir Bandang, Pergerakan Tanah, hingga Tanah Longsor
BMKG Angkat Suara Soal Sukabumi Dikepung Bencana : Cuaca Ekstrem Diperkirakan Masih Terjadi Tiga Hari ke Depan
Pemerintah Sukabumi Tarik Tuas Status Tanggap Bencana, Ini Rincian Cuaca Ekstrem yang Terjadi di Berbagai Wilayah