Sementara itu, salah seorang ketua tim relawan dari Yayasan Sehati Gerak Bersama, Andri Kurniawan mengaku, para relawan yang akan menyalurkan sumbangan terkendala akses jalan. Di mana ada beberapa jalan utama yang terputus, sehingga para relawan harus mencari alternatif jalan lain.
"Dari hasil assesmen kami, warga banyak yang membutuhkan makanan dan air bersih. Sebab saat ini bantuan sulit menuju lokasi, lantaran akses jalan banyak yang terputus dan terjadi longsor," terang Andri.
Selain itu, matinya aliran listrik selama dua hari ini, membuat warga kesulitan berkomunikasi dan mendapatkan air bersih. Sebab untuk memenuhi, kebutuhan air sehari-hari warga, menggunakan mesin pompa. "Kalau listriknya mati warga tidak bisa menggunakan air. Ya, mereka memanfaatkan air yang ada, seperti air hujan yang ditampung," tambahnya.
Sementara itu, berdasarkan data yang dihimpun Radar Sukabumi, bencana banjir yang terjadi di Kecamatan Sagaranten, khususnya di Desa Curug Luhur, telah berdampak pada tiga kampung. Di Kampung Lio Curug Luhur, tercatat 65 Kepala Keluarga (KK) dengan total 223 jiwa terdampak.
Selain itu, di Kampung Parungseah Curug Luhur, tercatat 64 KK yang terdampak, dan di Kampung Warung Nangka Curug Luhur, terdapat 9 KK serta 30 jiwa yang juga terkena dampak dari bencana banjir tersebut.
Tak berhenti sampai disana, dampak bencana yang terjadi di Sukabumi membuat enam titik jalan utama milik Pemerintah Jawa Barat yang terputus akibat bencana tanah longsor dan pergerakan tanah.
Dampaknya, transportasi terganggu, dan distribusi bantuan serta evakuasi warga terdampak bencana alam, baik longsor maupun banjir, menjadi semakin sulit. Data ini berdasarkan Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang (BMPR) Provinsi Jawa Barat.
Baca Juga: Bumbunya Cuman Diiris Tapi Bisa Membuat Olahan Ayam yang Rasanya Kaya di Restoran!
Kepala Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang (BMPR) Provinsi Jawa Barat, Bambang Tirtoyuliono kepada Radar Sukabumi menjelaskan, bahwa sejumlah ruas jalan dan jembatan mengalami kerusakan parah. “Untuk perbaikan jalan yang terputus, kami targetkan satu setengah bulan. Di lokasi bencana, ada enam titik jalan provinsi yang terputus,” kata Bambang kepada Radar Sukabumi saat mendampingi Pj Gubernur Jawa Barat, Bey Machmudin melakukan peninjaun ke lokasi bencana retakan tanah di Kampung Cihonje, Desa Sukamaju, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi pada Kamis (05/12).
Bambang juga menambahkan, fenomena hidrometeorologi ini memang sudah bisa diprediksi sebelumnya, namun dampaknya lebih besar dari yang diperkirakan. “Intensitas hujan yang tinggi berpotensi menyebabkan kerusakan seperti yang terjadi di Kabupaten Sukabumi,” katanya.
Beberapa ruas jalan yang terdampak antara lain adalah jalan Cikidang, Pelabuhanratu, serta jalan Loji menuju Puncak Darma Geopark. “Ada sekitar 14 titik longsor yang terjadi per 4 Desember 2024. Namun demikian, yang kerusakan parah hanya 6 titik yang jalannya putus. Beberapa titik, seperti di jalan Loji-Puncak Darma, mengalami kerusakan parah, termasuk jembatan yang patah akibat erosi sungai,” bebernya.
Menurutnya, jalan Loji-Puncak Darma dan jembatan Cilengka juga mengalami kerusakan akibat geseran sungai yang menggerus struktur jalan. Sementara, untuk jalur menuju Ciletuh, Bambang menginformasikan bahwa pengguna jalan akan dialihkan sementara waktu menggunakan jalur alternatif lain.
“Kami mohon maaf kepada pengguna jalan menuju Ciletuh, sementara akses ini akan dialihkan melalui rute alternatif. Mudah-mudahan dalam satu setengah bulan, jalur utama ini dapat diperbaiki dan dapat dilalui kembali,” pungkasnya.***