Minggu, 19 April 2026

Mengulik Cagar Alam Depok Bagian 1 : Misteri Pemilik Sumur 7 yang Tak Pernah Kering

Fahmi Akbar, Radar Depok
- Jumat, 1 Desember 2023 | 10:30 WIB
Papan tanda Taman Hutan Raya Cagar Alam yang berada di Jalan Cagar Alam, Kecamatan Pancoranmas, Kota Depok, Kamis (30/11). (ATFAL RIDA/RADAR DEPOK)
Papan tanda Taman Hutan Raya Cagar Alam yang berada di Jalan Cagar Alam, Kecamatan Pancoranmas, Kota Depok, Kamis (30/11). (ATFAL RIDA/RADAR DEPOK)

RADARDEPOK.COM - Ditengah padatnya pemukiman di Kota Depok, terdapat sebuah Taman Hutan Raya (Tahura) yang dikenal masyarakat sebagai Cagar Alam yang lebat dan asri di Jalan Cagar Alam, Kecamatan Pancoranmas, Kota Depok.

Laporan : Atfal Rida Kurnia Esa

Tidak sulit menemukan cagar alam yang kini diberi nama Taman Hutan Raya (Tahura). Letaknya berada persis di pinggir jalan yang sering dilintasi masyarakat Depok, yang menjadi salah satu jalan alternative menuju Citayam dan Sawangan.

Memasuki jalan yang mengitari cagar alam, terlihat pagar setinggi satu meter dengan besi yang telah berkarat serta cat yang sudah luntur dimakan waktu. Seketika itu juga udara terasa segar dan dingin mulai menyentuh kulit.

Baca Juga: Suka Cita pada Hari Guru Nasional di SMPN 10 Depok, Kue Ulang Tahun sebagai Simbolis Rasa Sayang

Di pinggir jalan sekitar cagar alam terlihat seorang pria tua dengan baju lusuh sedang duduk di sebuah becak. Dia adalah Nurdin. Pria berusia 63 yang sudah lebih dari 20 tahun mengayuh becak dan mangkal di sekitaran cagar alam, menyimpan sebuah kisah.  

Nurdin mengatakan, banyak misteri dan juga kisah diluar nalar yang menyelimuti hutan ini, salah satunya merupakan kisah sumur tujuh yang melekat di masyarakat sekitar cagar alam.

"Kalau cerita warga sekitar banyak horornya, saya pun sering melihat sosok gitu. Tapi kalau yang dari dulu ramai itu cerita sumur tujuh," ujar Nurdin, Kamis (30/11) siang. 

Baca Juga: Jejak Sejarah Rumah Tua Pondok Cina Depok Bagian 2-Habis

Sambil menghisap sebatang rokok, Nurdin dengan raut muka serius menceritakan sumur tujuh yang berada di bagian dalam Cagar Alam, yang airnya tak pernah mengering dalam kondisi cuaca apapun.

"Sumur itu peninggalan warga pendatang yang diusir, dulu mereka sembarangan mendirikan bangunan di dalam hutan terus sama warga asli kampung sini diusir," ujar Nurdin.

"Yang aneh itu airnya tidak pernah kering, walaupun pada musim kemarau," tambah dia.

Baca Juga: Sinergitas Tiga Pilar Kecamatan Tapos, Ciptakan Wilayah yang Aman dan Kondusif

Nurdin membagikan kisahnya yang sering melihat sosok yang dia yakini sebagai makhkuk halus yang kerap menganggunya ketika dia sedang mangkal di pinggir Jalan Cagar Alam.

"Kalau saya lagi mangkal sampai malam ada aja yang muncul, pernah bayangan hitam besar setinggi pohon, terus ada juga suara ketawa kuntilanak dari dalam hutan yang ganggu," cerita Nurdin.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X