“Sebelum bertemu Ketua DPR Suriah, kami berdiskusi panjang dengan Grup Persahabatan Parlemen Suriah dengan DPR. Banyak hal penting dibahas,” kata dia.
Menurut anggota DPR dari Fraksi Gerindra itu, di antara yang menyeruak dibahas adalah, pertama, parlemen sebagai pendorong kerja sama di berbagai sektor.
Kedua, urgensi memerangi terorisme dan ekstremisme. Ketiga, posisi strategis Indonesia terutama karena letaknya secara geografis dan salah satu pendiri Gerakan Non-Blok.
Keempat, memuji Muslim Indonesia yang moderat dan ramah. Kelima, memuji kebijakan a million friends and zero enemies dan ideologi Pancasila.
Keenam, gagasan menghidupkan kembali Sidang Komisi Bersama antara Indonesia dan Suriah. Ketujuh, harapan kontribusi Indonesia dalam merehabilitasi anak-anak Suriah yang didera konflik.
Kedelapan, harapan bantuan alat Kesehatan dari Indonesia untuk Suriah. Kesembilan, mentransformsikan hubungan erat kedua negara menjadi kerja sama nyata.
Sementara saat bertemu Menteri Waqaf Suriah, Mohammed Abdul Sattar, sejumlah topik penting didiskusikan yaitu, pertama, memuji Muslim Indonesia yang moderat dan toleran.
Kedua, urgensi memfungsikan Islam sebagai elemen pemersatu. Ketiga, urgensi memerangi terorisme dan ekstrimisme.
Keempat, pelajar-pelajar Islam Indonesia di Suriah sebagai penguat hubungan kedua negara.
Kelima, apresiasi atas arahan Presiden Suriah untuk melindungi pelajar Islam Indonesia di Suriah.
Delegasi BKSAP DPR RI ke Suriah ini terdiri dari Fadli Zon, Mardani Ali Sera, dan Hasani Bin Zuber. ***