Minggu, 5 Februari 2023

Potensi Golput 50 Persen Jika Tidak Ada Calon Alternatif

- Rabu, 19 Agustus 2020 | 09:27 WIB
  Oleh: Herryansyah, S.Sos. MBA Pengamat Politik dan Dosen Universitas Indonesia   PERSAINGAN sengit Pilkada Depok telah memunculkan dua petahana untuk saling berhadapan. PKS akan mengusung Walikota Depok Mohammad Idris yang menggandeng kader PKS Imam Budi Hartono, dan Gerindra yang mengusung Wakil Walikota Depok Pradi Supriatna, menggandeng kader PDI Perjuangan Afifah Alia eks caleg PDIP Subang-Majalengka-Sumedang. Boleh dibilang yang akan bertarung dalam Pilkada Kota Depok nanti adalah Pasangan 4L alias “Lu Lagi-Lu Lagi”, dan seperti biasa masyarakat hanya akan dijadikan “objek” yang mau tidak mau, suka tidak suka, HARUS MEMILIH pasangan yang sudah di calonkan oleh Parpol-parpol penguasa DPRD Kota Depok ini, tanpa bisa memilih calon lainnya. Hal ini menunjukkan mandeknya regenerasi politik di Kota  Depok selama ini, karena tidak ada calon walikota baru yang diharapkan dapat membawa depok menuju arah yang lebih baik. Kalau hanya calon lama apalagi dari petahana, warga Depok sulit berharap akan ada terobosan atau kemajuan yang signifikan, pada akhirnya perkembangan Kota Depok hanya akan berjalan seperti biasa layaknya lima tahun sebelumnya, siapapun yang akan terpilih nanti (pak Walikota lama atau pak Wakil Walikota lama). Tidak ada harapan baru, semangat baru, darah baru yang diharapkan bisa membawa perubahan yang signifikan bagi Kota Depok. Kinerja balon walikota Depok baik Idris maupun Pradi selama memimpin Depok ini kita sudah bisa menilai. Tidak ada yang istimewa. Kondisi Depok makin tidak jelas arahnya, tidak ada terobosan yang berarti bagi kesejahteraan masyarakat Depok apakah infrastruktur atau pelayanan lainnya. Depok yang seharusnya bisa memainkan peran strategis sebagai salah satu Kota yang berbatasan langsung dengan Ibukota Negara, justru terlihat hanya sebagai “pelengkap penderita” saja bagi DKI Jakarta. Karena Depok yang selalu terdampak dari berbagai masalah yang ada di DKI Jakarta, seperti masalah banjir, sampah, urbanisasi, kriminalitas, dan masalah sosial lainnya. Kalaupun ada hingar-bingar pembangunan yang ada di sepanjang Jalan Margonda, itu lebih banyak di topang oleh sektor swasta yang memang mempunyai kepentingan ekonomi atas wilayah tersebut.   Kedua balon yang akan maju dalam Pilkada Depok nanti tidak terlepas dari emosi pertarungan politik nasional oposisi dan koalisi saja. Perlu ada keberanian partai-partai lain untuk dapat berkoalisi membuka sumbatan menuju perubahan dengan membentuk sebuah poros baru yang memunculkan calon walikota yang “fresh”. Harapan sebagian masyarakat munculnya calon altenatif dalam pilkada Depok sangat dimungkinkan, dikarenakan beberapa partai-partai seperti Golkar, PKB, PAN, PSI yang apabila memiliki keinginan kuat untuk membawa perubahan ke kota Depok dapat berkoalisi dan mengusung paslon sendiri, karena partai-partai ini belum menentukan sikap dalam pilkada nanti. Kita banyak tokoh-tokoh muda alternatif yang bisa menampung harapan perubahan. Ada dari birokrat Hardiono Sekda Depok, ada dari kalangan profesional dokter Farabi sekaligus kader Golkar, ada tokoh muda Bang Rudi Samin, juga ada dari akademisi Rama Pratama mantan Anggota DPR PKS, dari kalangan Nahdiyin ada intelektual muda GP Anshor Habib Ahmad Riza Alhabsyi. Kekhawatiran tidak ada balon alternatif kemungkinan Golput bisa 50 persen, karena rakyat Depok malas lihat yang itu-itu aja atau 4L alias Lu Lagi-Lu Lagi. Depok bukan lagi Selamat Tinggal tapi Selamat Tertinggal. (*)

Editor: Administrator

Tags

Terkini

Tahun Politik 2023: Menjaga Nalar Politik

Sabtu, 31 Desember 2022 | 05:47 WIB

Pembelajaran Keragaman Budaya Sejak Dini

Minggu, 20 November 2022 | 21:24 WIB

Bagaimana Film Membentuk Kehidupan Kita?

Jumat, 18 November 2022 | 20:37 WIB

Pahlawan (Dalam) Perang Melawan Narkotika

Kamis, 10 November 2022 | 00:09 WIB

Hari Pahlawan Dalam “Darurat” Politik

Rabu, 9 November 2022 | 22:31 WIB

Menyiapkan Generasi Emas 2045

Selasa, 18 Oktober 2022 | 18:17 WIB

PKI dan Radikalisme Siapa yang Paling Berbahaya?

Jumat, 30 September 2022 | 11:30 WIB

Cerminan Hidup Masa Depan

Jumat, 30 September 2022 | 06:47 WIB
X