Minggu, 5 Februari 2023

Membangun Mindset Positif

- Jumat, 21 Agustus 2020 | 11:00 WIB
  Oleh: K.H. A. Mahfudz Anwar Ketua MUI Kota Depok   AKHIR-AKHIR ini banyak sekali berita Hoaks (dusta) yang berseliweran di berbagai media massa. Sehingga banyak orang yang menjadi bingung dalam menghadapi masalahnya. Mestinya bisa bekerja fokus, tapi malah menjadi galau, karena banyaknya berita yang mengganggu konsentrasi bekerja atau konsentrasi belajar. Dan sedikit banyak mempengaruhi konstelasi politik di negeri ini. Pada hal aslinya bangsa ini terutama masyarakat muslim selalu khusyuk dan fokus dalam ibadah pada Tuhannya. Tidak banyak persoalan yang layak untuk dirisaukan. Lihat saja perjalanan bangsa ini sepanjang sejarah terbentuknya negeri Nusantara hingga hari ini. Bangsa ini mudah disatukan dalam persaudaraan. Pada zaman penjajahan Belanda, Jepang sampai zaman merdeka, bangsa ini lebih mudah bersatu, sekalipun berbeda suku, ras dan tradisi-tradisi. Semua berjalan dengan wajar. Maka Bhinneka Tunggal Ika sangat cocok buat katalisator kebangsaan. Sebagai perekat persaudaraan dalam sebuah Negara (Nation) yang sangat majemuk ini. Dan ini mirip dengan pelaksanaan masyarakat Madani yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW ketika beliau memimpin kota Madinah sebagai suatu Negara baru yang berpenduduk multi etnis dan multi kepercayaan. Mereka sebagai suatu bangsa yang berperadaban maju, mudah menjalankan aktifitas keseharian di bawah arahan dan bimbingan Nabi dan Rasul Allah SWT yang selalu komitmen membangun negeri secara bersama-sama. Semua kekuatan yang ada di Madinah difungsikan sebagai potensi yang bersifat membangun. Untuk itulah perlunya membangun kebangsaan ini secara terus menerus, demi mencapai cita-cita luhur bangsa ini, yaitu Negeri makmur, aman sentosa di bawah lindungan Tuhan. Dengan jargon bahwa kita adalah satu bangsa, satu bahasa dan satu negeri. Kekuatan kaum muslimin sangat dahsyat sebagai potensi pembangunan yang berkelanjutan dalam mencapai cita-cita Negara bangsa yang besar dan disegani oleh bangsa-bangsa di dunia ini.   Tapi dengan syarat rapatkan barisan dan hilangkan friksi-friksi dengan alasan apapun. Dengan mindset positif yang bisa mendamaikan setiap orang. Dalam bahasa agamanya, hendaknya kita ini mengembangkan sikap husnudz dzan (baik sangka) pada semua orang. Kecuali pada orang-orang tertentu yang memang telah diketahui punya sifat kurang baik. Mengacu pada realitas sekarang ini, maka sebaiknya kita berpedoman pada tuntunan Allah SWT dalam Al-Qur’an, Q.S. Al-Hujuraat:6, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. Jadi jangan mudah termakan berita Hoaks, sebelum klarifikasi sampai pada tingkat menemukan kebenaran yang realistis. Dengan begitu insyaAllah tidak akan mudah terprofokasi yang akhirnya timbul penyesalan di kemudian hari. Salah satu indikator berita Hoaks yang mudah dikenali adalah disampaikan dengan cara-cara mendeskriditkan, mencaci, menghina orang lain, dengan bahasa yang kasar, yang menyebabkan kehilangan etika/sopan santun. Kurang menghormati manusia sebagai hamba yang perlu dihormati dan dimuliakan. Dan itu biasa berisi namimah (adu domba) yang sangat dilarang dalam Islam. Karena adu domba itu bisa menyebabkan masyarakat bertikai dan mengoyak ketenangan hidup bersama. Apa lagi cara-cara bicara yang bertentangan etika Bil-hikmah (bijaksana) dan mauidzah hasanah (nasehat yang baik), tentunya baik materinya juga baik cara penyampaiannya.   Walhasil jika ingin membangun suatu Negara yang berperadaban, maka ikutilah berita yang mendamaikan dan yang mengangkat derajat kemanusiaan. Bukan berita yang mencemarkan rasa persaudaraan sesama anak bangsa. Berita yang datang dari manapun, dari Penguasa ataupun rakyat jelata, dari orang kaya maupun orang miskin, orang tua maupun anak muda. Asal berita itu mengandung kebenaran hakiki (bukan kamuflase atau dusta) Semoga sekarang ini, hati nurani kita masih bisa membedakan yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah, yang selalu dibimbing oleh Ruh ke-Tuhanan (Ruh Ilahiyah). Sekian. Wallahu a’lam. (*)

Editor: Administrator

Tags

Terkini

Tahun Politik 2023: Menjaga Nalar Politik

Sabtu, 31 Desember 2022 | 05:47 WIB

Pembelajaran Keragaman Budaya Sejak Dini

Minggu, 20 November 2022 | 21:24 WIB

Bagaimana Film Membentuk Kehidupan Kita?

Jumat, 18 November 2022 | 20:37 WIB

Pahlawan (Dalam) Perang Melawan Narkotika

Kamis, 10 November 2022 | 00:09 WIB

Hari Pahlawan Dalam “Darurat” Politik

Rabu, 9 November 2022 | 22:31 WIB

Menyiapkan Generasi Emas 2045

Selasa, 18 Oktober 2022 | 18:17 WIB

PKI dan Radikalisme Siapa yang Paling Berbahaya?

Jumat, 30 September 2022 | 11:30 WIB

Cerminan Hidup Masa Depan

Jumat, 30 September 2022 | 06:47 WIB
X