Tidak Wajar
Lonjakan suara PSI pada hasil real count KPU perlu dikritisi dan dikawal bersama. Kenaikan suara itu dinilai tidak wajar. Jika tidak diawasi, suara partai yang dipimpin Kaesang tersebut bisa tembus 4 persen.
Pernyataan itu disampaikan pengamat politik Ikrar Nusa Bhakti kemarin. ”Harus ditilik bagaimana suara itu masuk melalui C1 plano. Kalau PSI berhasil masuk Senayan, bukan mustahil Kaesang maju sebagai kepala daerah,” tutur Ikrar yang juga peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Terpisah, Ketua Majelis Pertimbangan PPP M. Romahurmuziy meminta KPU dan Bawaslu memberi atensi atas kenaikan suara PSI. Menurut dia, pola kenaikan suara PSI tidak wajar dan tidak masuk akal.
Beberapa lembaga survei, lanjut Romy (sapaannya), menilai bahwa kenaikan suara PSI tidak wajar. Sebab, berdasar penghitungan, ada beberapa TPS di mana suara PSI mencapai 50 persen.
Baca Juga: Stok Beras Depok Berlimpah : Di Bulog Bogor 8 Ribu Ton, Di Distributor Depok Luber
PSI memperoleh 19.000 suara dari 110 TPS dalam waktu dua jam, berarti rata-rata 173 suara per TPS.
Mantan ketua umum PPP itu menegaskan bahwa jumlah pemilih per TPS hanya 300 suara. Dengan partisipasi pemilih rata-rata mencapai 75 persen, berarti suara sah setiap TPS hanya 225 suara. Artinya, PSI menang 77 persen di 110 TPS.
Hal tersebut, menurut Romy, tidak masuk akal. Dia meminta KPU dan Bawaslu tidak menutup mata atas penyimpangan itu. ”Mohon atensi KPU dan Bawaslu, operasi apa ini? Meminjam bahasa Pak Jusuf Kalla, apakah ini operasi ’sayang anak’ lagi?” bebernya.
Romy mengancam, jika jumlah suara itu tidak dikoreksi, DPP PPP akan meminta hal tersebut bagian yang bakal dibongkar seterang-terangnya dalam hak angket nanti.
”Saya mohon atensi KPU dan Bawaslu secara terbuka dan tindak lanjutnya secara cepat dan saksama,” tegasnya.
Kondisi PPP sendiri kini sedang berada di ujung tanduk. Partai berlambang Kakbah itu terancam tidak lolos ambang batas parlemen. Sebab, berdasar hasil quick count beberapa lembaga survei, perolehan suara PPP tak sampai 4 persen.***