Pihaknya juga berkomitmen untuk berkontribusi, baik di dalam maupun di wilayah sekitar operasional.
“Mencegah lebih baik daripada memadamkan. Kami akan berkontribusi penuh dalam upaya ini,” kata Syafei.
Sebagai bentuk komitmen, Wilmar telah membentuk tim satgas pencegahan kebakaran di setiap unit konsesi.
Mereka adalah tim yang terlatih dan dibekali dengan peralatan memadai, termasuk membangun menara pantau setinggi 15 meter dan sumur bor.
Baca Juga: 30 Lapangan Golf Terbaik di Jabodetabek untuk Pecinta Golf dan Bisnis
Perusahaan juga aktif melakukan sosialisasi kepada masyarakat dan menetapkan standard operating procedures (SOP) kebakaran di lahan dan hutan di setiap konsesi.
Perusahaan juga telah menetapkan peta risiko kebakaran (fire risk map), yaitu peta untuk menentukan tinggi-rendah risiko saat terjadi kebakaran dengan penyangga (buffer) 5 kilo meter (km) dari konsesi perusahaan.
Sejak Februari 2016, Wilmar telah bergabung dalam Fire Free Alliance (FFA) bersama beberapa perusahaan lainnya, yaitu APRIL, Asian Agri, Musim Mas, Sime Darby, IOI Corporation Berhard serta lembaga sosial masyarakat IDH (The Sustainable Trade Initiative) dan PM Haze.
Baca Juga: Ketua DPRD Kabupaten Bogor Rudy Susmanto Memprediksi APBD Tahun 2024 naik menjadi Rp10 Triliun
FFA merupakan kelompok multi-stakeholder yang berinisiatif dalam pengendalian masalah kabut asap dan kebakaran yang terjadi di Indonesia.***
Artikel Terkait
Melihat Operasi Pasar Murah Ramadan Kemendag dan PT Wilmar di Depok
Tim UI Peduli Bantu Terdampak Karhutla
Karhutla, Katar RW4 Beji Galang Dana
Pemerintah Akan Modifikasi Cuaca Cegah Karhutla
Program Plasma PT AMP Plantation, Wilmar Group Mampu Tingkatkan Ekonomi Petani Kelapa Sawit di Kabupaten Agam
Pemkab Ngawi Minta Wilmar Perluas Kemitraan dengan Petani, Sebut Harga Lebih Layak
Karyawan Wilmar Peringati Hari Batik dan Pancasila Dengan Penuh Kebanggaan